Teeeeet: bahasa hari ini

Sejak pagi buta, bahasa ini sudah terdengar. Perhatikan tetangga sebelah, ketika siap berangkat, sang ayah menekan klakson kuat-kuat. Artinya? Nak, cepatlah! Nanti terlambat! Setelah mobil keluar, kembali klakson dibunyikan. Kalau yang berdiri di pagar itu istri, bunyinya lembut,: Sampai nanti, Sayang. Tapi kalau si Mbok yang ada di situ, klakson menyalak, berarti: Buruan tutup pintunyaaaa!

Lalu mobil melaju. Eh,  di baris depan ada yang ragu-ragu: terus atau menunggu, lurus atau belok… Arus tersendat. Klakson  bergema panjang dan keras: Mau ke mana, seeh? Kalau takut bawa mobil, di rumah aja, tidur sarungan! Teeeeet! Di perempatan, lampu merah menyala, klakson dibunyikan: Sial! Begitu mulai kuning, tekan lagi: dilarang bengong! Teeeet! Hijau dan barisan mobil juga belum bergerak? Teeeeet! Ngapain berhenti lama-lama! Maju! Klakson berbunyi terus dan terus. Tak peduli semua memang tak bisa maju karena jalan padat alias macet total. Tak peduli orang kebisingan. Yang penting, klakson saja dulu! Ketika deretan panjang mulai berge­rak, klakson kembali berbunyi, dan sila diterjemahkan sebagai: Ayo, cepat! Jangan lelet! Nanti aku kena merah lagi, neh!

Selain berhubungan dengan lalu lintas, pengamatan saya memperlihatkan bahwa klakson bisa digunakan untuk tujuan lain: ngobrol. Kadang klakson bisa bermakna lain: Mbak, sendiri aja nih? Abang anterin, boleh? Atau: Pakde, ini aku, ponakanmu! Bisa jadi:  Gile billboard apaan tuh, baru tumbuh ya? Dan sangat mungkin bermakna: Sial, dompet ketinggalan! Segala yang terlintas di hati, pikiran, disampaikan dengan klakson. Bisa dan boleh dan semura orang merasa itu hal biasa.

Suatu ketika, saya merasa mobil kami dibuntuti motor yang terus-menerus berisik. Ketika akhirnya kami sama-sama berhenti di lampu merah, lewat jendela saya protes,  “Kenapa sih, Mas berisik banget?” Jawaban yang saya terima, “Klakson, klakson gue! Bolenye sewot!” Saya -mengingat darah gampang sekali mendidih- sudah buka mulut, siap membalas, tapi kalah cepat dengan larangan suami.  Katanya, “Sudah. Yang waras ngalah.” Waras? Saya lebih waras dari si Mas yang main klakson itu? Jujur nih, saya ragu, lho….

Teeeeeet!

 

5 Comments

Leave a Reply