D O T S

Death on the streets (DOTS). Seram? Kelihatannya begitu. Tapi saya berani taruhan Anda pasti sudah sering melihatnya. Tak percaya? Ayo, keluar rumah. Perhatian jalan raya dekat rumah. Ada berapa banyak bekas bangkai tikus yang terlindas di sana? Dari yang masih segar sampai yang sudah kering, hingga lebih mirip lembaran daun kering.

Jujur, saya pun baru memperhatikannya ketika Gunther W. Holtorf, warga Jerman yang membuat peta Jakarta, membahasnya di koran terbesar tanah air. Katanya, orang Indonesia itu punya jalan pikiran yang ‘menarik’. Contohnya pada cara membasmi tikus. Binatang ini diyakini sebagai penyebar penyakit. Karena itu harus dibasmi. Tapi cara membasminya itu ajaib: setelah mati, bukannya dikubur sehingga bangkainya habis dimakan mikroba, eh, malah dilempar ke jalan. Sadis, katanya.

Sadis juga, saya bilang. Tapi, selain pemandangan sadis itu, ada yang perlu dipikirkan. Bayangkan setelah dilindas, jasad remuk, tikus justru menjadi sumber penyakit! Segala isi perutnya tersebar –tersangkut di ban mobil, sepatu atau roda motor. Terbawa sampai jauh, sambil menebarkan kuman ke sana kemari. Hingga akhirnya tiba di rumah kita juga. Alaaah!

Mengapa jalan keluar seperti itu yang dipilih untuk membasmi tikus? Kebencian pada tikus dilampiaskan dengan melemparnya ke jalan. Tapi ujung-ujungya kita juga yang rugi. Ternyata selain sadis, ternyata kita ini memang…. ‘menarik’!

pernah dimuat di majalah AREA  23 April 2008

Leave a Reply