Just a smile away

Hampir setiap hari –sebelum masuk kantor—saya selalu menghabiskan waktu minimal 15 menit di sebuah kedai kopi, di basement sebuah gedung perkantoran. Hitung-hitung sebagai persiapan menghadapi pekerjaan sepanjang hari. Nah, di dekat kedai kopi langganan ini, ada sebuah toko obat kecil. 
Dulu, habis ngopi, saya sering mampir ke toko obat ini. Ada saja yang dibeli. Dari yang perlu sampai yang iseng tak bertujuan. Tetapi sejak manager-nya diganti, saya malas ke sana. Kenapa? Sang manager itu selalu merengut. Kalau ia mengeluarkan suara, kerasnya bukan main dan selalu bernada tinggi, membentak-bentak. Tak hanya kepada anak buah, juga kepada pengunjung. Mengganggu sekali rasanya.

Pernah suatu kali, saya iseng memberi tahu yang bersangkutan untuk menata ulang cara berkomunikasinya. Alih-alih terima, dia malah mengamuk. Sejak saat itu, saya tak lagi mampir.

Tetapi kemarin, saya terpaksa mengunjungi toko obat kecil itu, karena tangan tergores tepi kertas yang tajam. Saya siap-siap menerima suara keras dan nada tidak asyik itu. Ternyata suara itu tak terdengar sama sekali. Berganti dengan nada ramah. Terasa benar si pemilik suara bicara sambil tersenyum. Lain!

Ketika tiba giliran untuk membayar, si pemilik suara menyambut saya dengan senyum yang  begitu tulus. Tanpa sadar, kami terlibat dalam percakapan soal vitamin, suplemen, lalu berujung pada persetujuan saya menjadi member (yang selama ini saya tolak, karena malas berurusan dengan manager pendahulunya yang galak itu).

Begitu selesai, saya menuju kantor.  Perjalanan yang saya lalui setiap hari. Tetapi hari ini terasa berbeda. Saya merasa senang. Merasa lebih semangat. Adakah senyum Poetri –begitu namanya—penyebabnya? Bisa jadi.

Senyum. Sederhana, mudah, bermanfaat, membawa berkat. Baik untuk yang melakukan maupun yang menerima.

Sudahkah senyum hari ini?

PS: Thank you, Poetri @Century BII! You made my day

 

*pernah dimuat di majalah PREVENTION INDONESIA

Leave a Reply