akbar

Selamat siang, Akbar.
Apa kabar, Nak?

Akbar cuma mengangkat kepala sebentar, tersenyum sedikit, mukanya berpeluh. Rambutnya yang ikal jatuh ke dahi, hampir menutupi mukanya yang tirus.
Tangannya tidak berhenti mengayun cangkul, mencampur pasir, semen dan air.
Sudah seminggu ini Akbar ikut Pakliknya membongkar rumah yang tak jelas bentuknya, ditinggal pergi rombongan tukang sebelumnya.

bintarolow

Selamat siang, Akbar.
Berapa umurmu, Nak?

Dari fotokopi KTP yang ia serahkan kepada pemilik rumah, tertulis ia lahir tahun 1994. Tamat SMA dua tahun lalu, di Klaten.

Sejak enam bulan terakhir menjadi kenek tukang bangunan, Pakliknya itu.
Akbar yang tinggi kurus, tak pernah bersuara ketika bekerja. Ia terlalu sibuk mendengarkan lagu-lagu dari telepon genggamnya, yang dipasang dengan volume keras. Berkali-kali Pakliknya bilang agar ganti lagu, tapi Akbar tak peduli. Lagu-lagu yang tak banyak jumlahnya itu terus diulangnya, dari pagi hingga sore. Bahkan malam, menjelang tidur, dan juga ketika bangun pagi: menemaninya sarapan bubur atau sikat gigi.

Selamat siang, Akbar.
Apa yang kau nyanyikan itu, Nak?

Bukan dangdut, bukan campursari, bukan macapat, tapi theme song Naruto, Angela Aki, Ken Hirai…. Semua dari Jepang sana. Ah, J-Pop!
Akbar akhirnya meringis, memperlihatkan sederet giginya yang putih. Matanya mendadak berbinar.
Mengerti kau apa yang disampaikan penyanyi-penyanyi berkulit putih dari negeri matahari terbit itu, Akbar?
Tersipu-sipu ia menjawab,”Sekedik-sekedik nggih saget, Pak…”
Selain nyanyi-nyanyi, Akbar juga bisa mengobrol dalam bahasa Jepang.

Setahun setelah tamat SMA, Akbar sudah siap bekerja di dok kapal, di Jepang. Semua sudah rapi, sudah tinggal berangkat: menyambut pekerjaan bagus, bayaran bagus, pengalaman baru.
Tetapi urung karena Ibu melarangnya berangkat.
Ibu bilang, kalau cuma mau jadi tukang, di kampung sendiri juga bisa.
Ke Jakarta pun mungkin. Tak usah jauh-jauh pergi, meninggalkan kampung bahkan negeri.
Kalau Akbar pergi jauh, siapa yang akan mengantar Ibu kenduri, atau berkunjung ke sanak keluarga? Kakak-kakaknya sudah menikah, Bapaknya sudah lama tak bisa diandalkan untuk minta tolong ini itu.
Belum lagi kalau nanti Ibu kangen, ingin bertemu: aduh sungguh makan biaya, makan waktu dan tak bisa dilakukan ketika ingin.

Dulu, jaman kecil, Ibunya pernah bilang ia harus punya cita-cita.
Dulu, bapaknya bilang, ia harus bisa jadi orang besar. Berani keliling dunia. Cari pengalaman.

Sekarang –sudah beberapa bulan ini—ia hanya pulang pergi Jakarta – Klaten. Tinggal di rumah penuh debu yang menyesakkan dada, tidur di lantai, kadang -bila beruntung- beralas tikar. Kakinya luka-luka kena puing. Telapak tangannya yang semula sempat melepuh, kinimulai menebal.

Lagu Naruto itu sudah kembali lagi.
Akbar rengeng-rengeng, menyanyi sebait dua sambil menuangkan adukan semen ke dalam ember, siap dibawa Pakliknya menyelesaikan tangga di dapur.
Waktu istirahat masih jauh.

2 Comments

Leave a Reply