sepotong kue bernama Choy Pan

choipanIMG_4470

Pada suatu siang, ketika menjemput saya dari sekolah, dan tahu saya lapar, Pak mengajak saya naik mikrolet. Melaju kami ke wilayah Toko Tiga. Masuk pasar yang ramai itu.

Di warung pertama, di sebelah kanan, di atas meja kayu tua, bertebaran aneka panganan. Ada bacang, lumpia, wafel, kue ku, lemper, dan Pak mengambil makanan yang satu itu. Bentuknya tidak menarik. Putih, berminyak, bulat tidak, lonjong bukan. Tapi Pak begitu yakin, membeli dua bungkus yang masing-masing berisi 3 kue putih butek berminyak itu. Oleh penjual, bungkus langsung dibuka, disiram dengan sambil encer.

Pak langsung melahap satu sambil memberi isyarat agar saya melakukan hal yang sama. Meski kurang yakin akan rasanya, saya lakukan saja. Pertama, karena lapar. Kedua, karena Pak yang pandai masak begitu menikmatinya. Jadi, pasti si buruk rupa ini  enak rasanya.

Dan memang enak. Setidaknya buat saat itu, ketika perut lapar bukan main.

Choy pan dibuat dari kulit tepung beras yang dibuat jadi lembaran tipis. Diisi dengan irisan bengkuang dan sedikit ebi yang digongseng. Bungkus kulit beras ditutup seperti membuat pastel. Tapi karena lembarannya sangat halus, jadi bentuknya kurang cantik. Sambalnya campuran cabe, cuka, garam dan bawang putih dan banyak air. Segar sekali.

Choy pan.
Makanan berwajah biasa, rasa biasa, harga murah.
Tapi buat saya, istimewa.

Di negeri atas awan sana, ada Choy Pan, Pak?
Rinduku padamu.

Leave a Reply