Pak Siahaan

Kami kembali ke Alte Nikolai Kirche, Gereja Santo Nikolas, Romerberg, menyanyikan puisi. Mengambil tempat di altar, menjelang akhir kebaktian.

Dari altar ini juga, saya sudah melihatnya: seorang bapak yang semula duduk lurus, perlahan-lahan menggeser posisi duduknya, miring dengan kaki di gang antar kursi. Sesekali ia memejamkan matanya ketika mendengarkan nyanyian kami. Kadang tangannya di tempelkan di daun telinga, mencoba menangkap lebih jelas apa yang kami sampaikan.

Ketika kebaktian selesai, dan kami berjalan ke ruang pertemuan gereja bersama Jens dan Pak Grover, Bapak ini menemani. Dan di ruang yang ramai oleh suara semua orang, ia mengenalkan diri. Dia, Pak Siahaan yang pada suatu ketika begitu tergila-gila pada gitar.
“Sayang, sekarang jari-jari saya sudah kaku. Tidak bisa lagi main gitar,” katanya. Tetapi, dari matanya, gerak jari-jarinya selama mengobrol bersama Ari, saya tahu gitar tak pernah meninggalkannya. Mungkin denting-denting yang ia dengar tadi, akan memaksanya memainkan satu dua lagu. Sesulit apa pun itu bagi jari-jari dan tangannya. Saya yakin itu.

Adakah yang bisa menghentikan musik?
Karena sekali mengenalnya ia akan terus berada dalam jiwamu.

Leave a Reply