Semalam…

Jadi, dalam mimpi semalam, di rumahku yang mendadak rapi itu (sungguh jauh dari kenyataan saat ini), berlangsung mini konser. Mungkin ini karena ide membuat “sesuatu” di rumah, seperti yang dihembuskan habis-habisan oleh Petrus Briyanto Adi dan Bonita Adi begitu membara di kepala, sehingga mimpi pun ikut mengingatkan.

Ketika sedang menata kursi, tiba-tiba kau datang. Masuk begitu saja, diikuti beberapa teman yang tak aku kenal. Kau langsung memeluk, dan bilang sudah siap untuk konser ini, yang tak jelas tentang apa dan menampilkan siapa. Tak penting juga.

Kau sempat menanyakan pohon natal yang belum terpasang. Aku bilang, sedang dipikirkan mau bentuk apa tahun ini. Setahun lalu, kami memakai potongan kayu restan yang ditumpuk-tumpuk serupa pohon cemara. Kau mengamati ruang, lalu tersenyum lebar, “Luas, ya?” katamu. Dan kita sama-sama mengenang rumah Balai Pustaka yang sempit memanjang dengan beberapa ekor anjing yang berlari lalu-lalang.

Lalu kau bilang, “Kalau nggak sempat ketemu lagi, Selamat Natal, ya Da…”
Tiba-tiba aku tersadar, “Bukankah kau sudah lama tiada, Mas? Kenapa ada di sini?” Kau tertawa kecil, “Kangen boleh kan, Da…” Ah, ya… Apa salahnya dengan kangen? Kita pun berpelukan. Lalu aku ingat saat kau masih sering ke rumah dulu, dan di saat menjelang Natal begini, kau bisa berlama-lama di rumah. Lalu pamit ke rumah Dewi Wilutomo. Atau sebaliknya. Rasanya belum lama masa itu berlangsung.

Ketika aku menoleh, kau sudah tak ada di sampingku.
Pulang.

Mas, titip salam buat Mak dan Pak, ya.

Leave a Reply