Ramadan

Saya sedang mati-matian menyelesaikan Na Willa jilid dua. Menjelang bab terakhir, pikiran justru bercabang ke sana ke mari. Dan bukannya menyelesaikan  dengan segera, saya malah membuat tulisan-tulisan lain.  Ini salah satunya. Saya muat di sini, karena isinya begitu dekat Na Willa.
Selamat membaca.

Di bulan puasa seperti ini, saya ingat hari-hari kemarin, ketika tinggal di sebuah gang, di Surabaya.

Tetangga dan sekaligus teman bermain saya, Farida, bungsu dari 7 bersaudara, anak Madura. Dua kakaknya yang tertua dianggap punya kemampuan menyembuhkan segala penyakit. Jadi, pada hari-hari tertentu yang sudah ditetapkan, ada banyak orang datang berobat. Mereka antri bertemu dengan Gus Anas dan Gus Sali. Juga antri air mandi keduanya, yang kalau dibasuh pada kulit yang gatal dan luka, bisa segera sembuh.

Setiap sore, ibunya Farida –dibantu tetangga (termasuk ibu saya) dan anak-anak perempuannya, kecuali Farida yang lebih banyak mengganggu laju masak-memasak di dapur—menyiapkan hidangan buka puasa disediakan buat mereka yang datang berobat. Disiapkan di meja kecil, di ruangan mengaji, di bagian depan rumah. Ramai.

Kami –Farida dan saya—hampir selalu menjadi dua orang pertama yang mencomot hidangan buka puasa itu, begitu beduk terdengar. Setelah itu kami nikmati di pojok kebun, atau di dipan rumah teman kami yang lain, Dul.
Kami menikmatinya sampai Farida dipanggil pulang untuk sholat maghrib, dan saya pulang ke rumah.

Kalau bulan puasa begini, di rumahnya tak ada pengajian. Karena semua kegiatan berpindah ke masjid di gang sebelah. Sampai hari Raya, kesibukan tidak terlalu berbeda benar. Yang pasti pada malam takbiran, terdengar beduk bertalu-talu, tapi tak ada petasan. Sore harinya, Farida datang membawa rantang berisi lontong dan opor, yang di hari sebelumnya dimasak bersama Mak dan ibu-ibu lain di dapurnya yang besar itu.

Esoknya, ada sholat Ied.
Begitu tahu sholat Ied selesai, saya akan berdiri tegak di depan rumah, menunggu Farida, Dul, dan Bud lewat. Setelah itu, kami langsung berkeliling,memberi selamat kepada para tetangga. Mak dan Pak juga keluar rumah hari itu. Bertandang ke rumah tetangga. Memberi selamat, mengicipi hidangan Lebaran.

Siang hari, ketika matahari bersinar tepat di atas kepala, dan dari rumah Farida terdengar nyanyian Ida Laila, Keagungan Tuhan, kami berkumpul di ruang besar yang sekarang lengang itu.  Menghitung pendapatan hari itu. Uang yang masih baru dan licin, disimpan. Yang tampak kusam dan kusut, dibelikan kelereng, atau gula-gula.

Dua hari setelah Hari Raya, segala sesuatunya kembali seperti biasa.
Ruang besar di bagian depan rumah Farida, hanya penuh di pagi hingga siang. Setelah itu sepi. Menjelang sore, baru kembali ramai. Ruang itu diisi oleh puluhan anak-anak besar kecil, datang dari lima gang Krembangan Bhakti. Semua berkumpul, belajar mengaji.

mengajiSaya ikut dalam rombongan ini. Duduk di baris paling belakang, ditemani Farida.
Saya punya kitab sendiri, lengkap dengan tatakan dari kayu, juga lidi untuk mengikuti baris ayat-ayat di kitab suci itu.

Mak tidak pernah melarang saya ikut kegiatan ini.
Satu-satunya hal yang membuat dia marah, ketika saya berangkat memakai sprei putih yang baru selesai dicuci, digosok oleh Mbok sebagai mukena. Mak marah karena Mbok setengah mati mencuci sprei itu pada hari sebelumnya. Belum sehari dipakai sudah kotor penuh lumpur (Na Willa, hl. 66/Sore Ini). Bukan karena kegiatannya.

Maknya Farida juga tidak panik melihat Farida mengumpulkan gambar-gambar kecil berbentuk prangko dari fragmen kisah Perjanjian Lama dan Baru, yang saya dapat dari Sekolah Minggu.

Nanti, ketika Natal tiba, Farida bisa mampir membantu menghias pohon Natal. Emaknya tahu, dan tak masalah. Begitu saja berlangsung setiap tahun.

Melihat kembali hari-hari kemarin itu, saya merasa orang tua kami sangatlah tenang menghadapi kegiatan anak-anaknya. Mereka juga percaya diri bahwa perubahan iman tidak serta merta terjadi karena seseorang menerima gambar kecil bergambar Daniel atau duduk menghadap sebuah kitab yang terbuka dan ikut melantunkan ayat-ayat yang tertulis di sana.

Saya bersyukur mempunyai pengalaman seindah itu.

 

#IndonesiaYangSayaKenal

Leave a Reply