PengantinBaru

Potret Keluarga :

Kau sedang memandangi potret lama keluarga kami. Ya, yang di tengah itu sudah jelas kan siapa? Aku. Waktu itu, baru tamat SMP. Lihat rambutku yang berdiri tegak lurus seperti sapu ijuk buatan tukang sapu yang belum tamat kursusnya. Hitam? Ooh, itu dulu. Biasa toh, sering main di bawah matahari. Sekarang coba bandingkan…. Kulit Mariana Renata saja kalah putih! Nah yang di sebelah kiriku itu Addo, sulung di keluarga kami. Manusia paling beku sedunia. Kata Ibu, dia mirip kakek yang sangat suka menghemat kata-kata. Kalau tak perlu sekali, ia tak bicara. Itu pun masih diedit hingga yang terdengar paling-paling hanya lenguhan panjang atau pendek. Namun, jangan tanya isi otaknya. Meski isi kepalaku ini dikuras habis-habisan, tetap tak akan bisa menandingi kerak—sekali lagi hanya kerak—luar kepalanya. Kepandaiannya benar-benar menyinggung perasaanku sebagai adiknya. Di samping kananku, Kanya, kakak perempuanku. Cantik, ya?
Aku pernah iri pada Kanya. Bagaimana tidak, hanya karena ia satu-satunya anak perempuan di keluarga kami maka apa pun yang keluar dari mulutnya adalah kewajiban—bagi siapa saja yang mendengarnya—untuk melaksanakannya. Kalau tidak, dia akan menangis. Dan mukanya itu loh … begitu mengiba, membuat orang merasa sangat bersalah, hingga bila diperlukan ingin ikut menangis juga.
Cinta Ibu dan Bapak pada Kanya selalu bertambah, seiring dengan kecantikannya yang kian bersinar. Malah aku sempat berpikir, jangan-jangan Ibu dan Bapak lupa, bahwa setelah Kanya masih ada makhluk lain di rumah ini yang berstatus anak mereka: aku. Namun, pernah suatu ketika cinta Ibu pada Kanya agak meluntur. Sebagai gantinya, aku naik pamor. Kau heran? Jangan! Akan kujelaskan sebentar lagi setelah selesai kuterangkan keanggotaan keluarga kami yang lain.
Di deretan depan duduk dua orang lagi. Yang kiri, ibuku. Makhluk paling pintar di rumah kami. Ia doktor termuda yang pernah ada di Indonesia. Ia jadi ketua jurusan termuda dan kemudian dekan termuda juga untuk fakultasnya, psikologi. Ia sering diundang seminar ke luar negeri. Karya tulisnya ribuan. Hebatlah, pokoknya! Addo pasti mengambil gen kepandaiannya dari Ibu. Di sebelahnya, lelaki tua dengan rambut yang seluruhnya telah berubah warna dengan sukses: Bapak. Ia juga pandai, tapi pikunnya bukan main. Dialah dosen penguji yang paling sering lupa tanggal dan jam ujian, padahal sudah dicatat di agenda dan semua penanggalan yang ada di rumah dan kantornya. Sumber kekusutannya selalu sama: ia lupa membuka agenda dan alpa melirik kalender. Celaka!
Eh, sampai di mana tadi? Oya, lunturnya sayang Ibu pada Kanya. Penyebabnya cuma satu: hadirnya seorang pria di rumah kami. Jarot namanya. Tegap, gempal, hitam, matanya besar, suaranya berat dan kalau tertawa, gemanya bisa menggetarkan kaca jendela rumah kami. Rambutnya keriting, sayang tumbuhnya tak merata. Bagian depan dibiarkan licin, baru agak ke belakang sedikit, kriwil-kriwil yang hitam legam itu melebat dan selalu berkibar ditiup angin. Ya, kau bisa lihat wajahnya di foto keluarga kami yang baru. Ya, itu dia.
Pada awal kehadirannya, Ibu—seperti biasa—tak terlalu memberi perhatian. Teman pria Kanya terlalu banyak. Hampir semuanya datang berbanyak pada hari Senin hingga Jum’at dan membiarkan ruang tamu sepi pada malam Minggu. Akan tetapi, pria yang satu ini lain. Datang selalu sendiri, setiap sore muncul, malam Minggu menampakkan diri lagi dan baru pulang setelah Ibu dehem-dehem atau sengaja menjatuhkan panci di dapur. Aku—tadinya—tak terlalu memberi perhatian. Namun, setelah omelan Ibu terdengar sangat sering dan panjang-panjang, aku merasa ada yang telah berubah di rumah ini.
Kanya yang dulu selalu pulang awal—jam empat sore sudah di rumah—dari kuliah, sejak kenal si tegap ini jadi sering pulang setelah lewat acara Liputan Enam Petang. Terkadang lebih. Dan kalau pun pulang, ia tak sendirian. Si hitam kelam, gempal dan tegap itu pasti menemani.
Aku pernah memancing pendapat Addo tentang Kanya, tapi—bodohnya, kok aku masih mau mencoba juga—reaksinya hanya lenguhan panjang, ditambah mengangkat bahu sedikit. Tampaknya di saat seperti ini cuma Bapak saja yang paling tenang. Mungkin ia tak tahu apa-apa? Bisa jadi.
Suatu ketika, selama seminggu penuh mata Kanya sembab. Menangis. Aku ingin sekali menanyakan sebab-musababnya, meski sudah bisa diduga pasti ini ada hubungannya dengan si hitam legam dan agak gundul sedikit di bagian depan kepalanya itu. Akan tetapi, untuk langsung menanyakannya, aku tak berani. Habis—berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah—Kanya akan mudah menangis bila ditanya sesuatu yang membuatnya sedih, atau mengganggu pikirannya. Celakanya, aku jadi berpartisipasi menyumbangkan air mata begitu ia mulai menangis. Duet tangis. Sungguh bikin malu saja. Khusus untuk urusan mata sembab kali ini, Ibu tampaknya ikut-ikutan juga. Matanya bengkak. Seminggu juga. Herannya, di saat seperti ini, Bapak malah bersiul-siul dan melirik-lirik lucu kepadaku. Sampai pada suatu hari, sebelum aku berlari meninggalkan mobil menuju gerbang sekolah, Bapak menarik kemejaku, “Kamu nanti harus di rumah. Ada soal penting,” katanya dengan senyum yang memberi bekas lekukan pada sudut bibirnya.
“Kenapa, Pak?”
“Pertemuan keluarga.”
“Urusan apa?”
“Itu loh, kakakmu. Kanya….”
“Kenapa, Pak?”
“Ah, sudah! Nanti ibumu yang menerangkan semuanya. Kalau kamu tahu sekarang, tidak seru lagi….”Lalu ia melambaikan tangannya, menyuruhku berlalu.
Aku tak tahu peristiwa penting apa yang akan digelar. Pastinya, ketika makan malam tiba, di meja makan terhidang lontong, sambal goreng, opor dan semur daging. Agak terlalu istimewa untuk makan malam biasa. Semua makan tanpa suara. Piring diisi dengan sedikit makanan, kecuali piringku dan Addo. Kami berdua makan dengan lahap.
Makan malam berlangsung sunyi. Tak seperti biasanya. Ibu tampak tegang. Kanya berkali-kali mengusap hidungnya. Kulemparkan tatapanku jauh-jauh, jangan sampai aku kembali berpartisipasi. Addo bisa melenguh sepanjang-panjangnya kalau dia melihat aku ikut menangis.
Ketika menikmati santapan ronde ke dua setengah, Ibu mengetukkan garpunya ke gelas. Wah, rapat penting dimulai.
“Kamu tak usah berhenti makan, Dit,” kata Bapak menyentuh jariku—aku memang tak berniat untuk itu, Pak. Rugi!
“Ibu mau bicara sedikit. Ini tentang….” Ibu berdehem beberapa kali sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kanya. Dia.…” Tiba-tiba Ibu menangis. Kanya juga. Kini ganti Bapak yang berdehem-dehem. Addo melenguh, keheranan. Ia menatap tiga sosok yang ada di hadapan kami.
“Hamil?” Kudengar suaraku meluncur tak tertahan. Lebih mirip bisikan, tetapi cukup keras untuk semua telinga. Sepotong lontong dengan irisan labu siam mendarat di hidungku. Kanya melempar dengan tepat, “Apa katamu?” Ia menjerit marah. Ibu melotot geram. Bapak terbatuk-batuk. Tersedak, rupanya.
“Jangan main-main begitu Ditto. Kakakmu ini mau menikah! Heran, pikiranmu kok malah mengarah ke situ, sih?” Bapak bersuara.
“Habis dari minggu lalu Ibu dan Kanya menangis terus. Bikin bingung saja. Kalau kawin saja sih, soal biasa. Sama siapa sih?”
“Masih tanya lagi! Siapa lagi kalau bukan sama.… Siapa itu namanya, ya? Jono?”
“Jarot, Pak” Kanya setengah berbisik menyebutkan nama si tegap kelam pekat itu.
“Ya, ya, Jarot….” Begitu Bapak selesai mengucapkan nama calon menantunya, tangis Ibu meledak. Keras, deras. Kanya juga. Dan keduanya bangkit meninggalkan kami bertiga di meja makan. Mereka masuk kamar masing-masing.
Esoknya, aku sengaja menghampiri Ibu yang sedang menyibukkan diri di kebun. Setelah pertanyaan basa-basi tentang ujianku, ia pun bercerita.
Intinya, satu saja: Ibu kurang suka melihat Kanya akan jadi istri si hitam legam itu. Katanya si legam ini terlalu tua untuk kakakku. Katanya lagi, ia khawatir si legam tak akan membiarkan Kakak melanjutkan studi-nya ke tingkat master, mengingat sudah kawin dan punya anak pula nantinya. Namun, yang paling hebat dari segalanya, Ibu tak ingin punya cucu berkulit hitam legam.
“Kamu tahu, Ditto … gen hitam itu dominan! Jadi 99% kemenakanmu nanti hitam!” Astaga, kawin saja belum sudah bicara soal warna kulit cucu yang akan lahir. Namun, saat itu mana berani aku berkomentar. Bisa jadi kepalaku digetok Ibu dengan sekop kebunnya!
Sejak acara makan malam penuh air mata itu—ini aneh—Ibu jadi rajin mencela orang berkulit hitam. Mungkin ini usaha terakhirnya untuk mencegah Kanya menjalankan rencananya, menikahi si keriting-hitam-tegap-gempal-agak sedikit botak, si Jarot. Semua acara televisi, berita koran, kalau menampilkan foto orang berkulit hitam, pasti dikomentari Ibu. Ini jelas aneh. Karena sejak dahulu Ibu selalu bertingkah laku baik, sesuai dasar logika yang kuat, hati yang jernih, dan selalu membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berbau emosi. Jadi, masalah warna kulit—seharusnya—jelas-jelas tak masuk dalam urutan perhatiannya. Si pandai-bijak-hebat berubah drastis karena putri kesayangannya akan menikah dengan seorang lelaki berkulit hitam.
Setengah tahun setelah peristiwa makan malam yang sangat istimewa itu, Kanya menikah. Sebuah upacara dan pesta kecil antar keluarga berlangsung di rumah kami. Dan khusus untuk acara ini, Ibu ngotot memaksa Jarot masuk salon selama 7 hari berturut-turut: mandi lulur, mandi rempah, mandi bunga, mandi lumpur, badan digosok pakai batu apung. Usaha mati-matian yang dijalani Ibu agar kulit Jarot tampak lebih terang. Si calon menantu pertama ini malah sengsara ketika masa seminggu itu lewat. Kulitnya melepuh, meski memang sudah dari sananya kelam. Kulit yang baru pun tetap saja gelap warnanya. Ibu merengut. Kecewa.
*
Sekarang aku punya keponakan. Lupi namanya. Lucu. Rambutnya keriting, badannya tegap, gempal, matanya hitam, bulat, jernih. Kulitnya? Kau lihat sendirilah di foto besar itu—lebih tepat disebut poster—hitam. Mirip Dakocan.
Ketika ia lahir, Ibu berteriak gembira. Ketika ia mulai merangkak, Ibu menyanyi senang. Dan ketika ia bisa mengucapkan kata, “Yang…. Eyang….” Ibu menangis haru. Lupi permata Ibu. Jarot? Oh, sekarang ia dipuja-puja. Katanya, ia lelaki paling tepat untuk Kanya yang manja, yang banyak maunya, yang keras kepala, yang cengeng, yang … dan seterusnya. Masih panjang daftarnya. Hebatnya lagi: kalau dulu sebelum berenang Ibu berbalut krim tebal-tebal agar kulitnya tidak gosong, sekarang malah memakai lotion khusus agar kulitnya jadi agak gelap bak tembaga. Supaya mirip dengan sang menantu. Aneh. Namun, itu masih belum apa-apa dibandingkan cerita paling baru menyangkut Addo. Sejak ia punya pacar—aku selalu ingin tahu apa yang ia ucapkan kepada pacarnya, kan kalau sehari-hari bisanya cuma melenguh panjang dan angkat bahu berkali-kali—Ibu selalu uring-uringan. Setelah itu, diikuti dengan urutan peristiwa yang sama seperti beberapa tahun lalu. Satu, selama berminggu-minggu mata Ibu sembab. Dua, muncul rencana makan malam bersama. Aku tahu kelanjutannya: Addo akan menyusul jejak Kanya. Kawin dan punya anak.
Dengar-dengar dari Bapak, Ibu tak suka pada pacar Addo yang kulitnya terlalu putih. Seperti kertas. Nanti cucunya….
Ketika hal ini kutanyakan pada Kanya, kakakku yang cantik itu cuma tersenyum. Manis sekali. Aku tak mengerti.
***

Pernah dimuat di Majalah HAI edisi khusus (tahun1990)

Leave a Reply