#TURNE Catatan Tur AriReda MENUNGGU KEMARAU: Salatiga

perabot tour

Ketika menulis ini, kami -rombongan AriReda dan Tony Memmel beserta band– keluar Salatiga, menuju Semarang. Bis berangkat jam 11 kurang sedikit, dengan 15 penumpang.

Kemarin, hujan menyambut kami di Salatiga. Tiba di kampus FTI UKSW kabut mengelilingi gedung. Putih. Dingin. Makan siang, lalu cek sound, dan diskusi.

Salatiga kota penting buat saya.
Terutama di UKSW. Mak kuliah di sini. Sebagai siswa berprestasi dari Sumba, ia mendapat kesempatan kuliah di sini.
Di kota ini juga Mak dan Pak bertemu, menjadi musuh besar, berteman, dan kemudian saling jatuh cinta lalu memutuskan menikah dan kemudian menetap di Surabaya, mengikuti perjalanan karier Pak.

Pertunjukkan berlangsung lancar.
Suasana yang semula agak dingin, kemudian cair dan bahkan amat hangat setelah kami menyanyi. Saya berkenalan dan berfoto dengan mahasiswa dari Sumba (tempat Mak berasal) yang menjalani jalur seperti Mak. Berprestasi dan dapat beasiswa di UKSW.

Habis foto sesi, kami pulang menuju Kayu Arum.
Penginapan yang pasti cocok buat honeymooners (beneran!). Malam kami habiskan dengan duduk di beranda, membahas makanan sampai gaya tidur Ralmond Farley. Torus bercerita bagaimana hebatnya dengkur Ralmond. Felix yang mengaku pendengkur, nggak ada apa-apanya! Buat membuktikan kehebatan itu, Ralmond mengeluarkan bukti otentik: rekaman “suara” tidurnya.

Kami duduk berkeliling menghadap ke handphone Ralmond.
“Coba lihat nih setelah beberapa menit, gue ketiduran. Terus ngorok deh,” katanya.
Kami memperhatikan hitungan waktunya. Dan sebentar saja terdengarlah suara yang ditunggu itu!
Agus Leonardi, yang tepat berada di depan handphone, menunjuk layar, “Menit? Ini baru 20 detik udah ngorok!”
Oh, suara itu memang luarbiasa…. GROOOOOOOAAAAK! GROAAAAAK!

Kami bertujuh semalam, duduk di sekeliling meja bundar, memandangi telepon genggam yang membahanakan dengkur. Tertawa sampai perut ngilu.

Absurd.
But it’s so awesome.
#lovemylife

Siap berangkat!

Leave a Reply