TURNE – AriReda #turmenunggukemarau: SURABAYA

Busana & Foto: Lulu Lutfi Labibi

 

Hore: akhirnya bisa tur juga!

Tur kali ini harusnya terjadi di bulan April atau Mei lalu ketika album Suara Dari Jauh belum lama dikenalkan. Rencana sudah disiapkan oleh Felix Dass, tapi tak terlaksana. Penyebabnya, dan ini yang utama: jadwal kerja saya yang mendadak padat. Namanya juga orang kantoran, meski punya cuti, ya musti lihat-lihat jugalah. Maka jadwal diundurkan, diatur ulang, hingga akhirnya dilupakan terjadi di tahun ini.

Tiba-tiba Felix mengudarakan lagi rencana ini di bulan November. Saya langsung deg-degan, khawatir akan menabrak banyak acara kerja. Ternyata setelah atur sana sini, bernegosiasi dengan teman-teman di kantor, dan dapat ijin mengambil semua sisa cuti buat Natal dan Tahun Baru yang ada, tur bisa berlangsung dari tanggal 18 – 26 November 2017.

Tur ini menarik karena perencanaannya yang tak disengaja.

Semua dimulai dari undangan untuk main di Malang pada tanggal 25 November. Sahabat AriReda, Abdur dan Sindy mengundang kami untuk menyanyi di acara pernikahan mereka di kota sejuk ini. Bicara soal Malang, maka Felix mengontak Mas Iksan Skuter, siapa tahu bisa menerima kami main di sana. Lalu masuk undangan main di Semesta Literasi, Karawang pada tanggal 26 November. Eits, ada 3 tanggal nih!

Dan rencana tur pun jadi final ketika AriReda kesempatan mendampingi Tony Memmel dan band-nya, grup musik folk/country dari Amerika Serikat, di Solo, Salatiga, dan Semarang. Enam pertunjukkan sudah. Lalu masuk lagi ajakan dari UNESA. Jadwalnya menjadi pembuka rangkaian tur tahun ini.

Ini dia rute tur kami tahun ini:
JAKARTA – SURABAYA – SOLO – SALATIGA – SEMARANG –SURABAYA/MALANG – JAKARTA – KARAWANG.

Eh, sebentar, apa nama turnya?
Tahun lalu, #StillCrazyAfterAllTheseYears. Tahun ini, kami mau pakai bahasa Indonesia saja. Tapi apa? Ari dengan cepat datang memberi usulan: Menunggu Kemarau, terambil dari judul puisi Abdul Hadi WM, yang kami nyanyikan di album kedua kami. Kami langsung sepakat.

Persiapan dilakukan. Desain poster: urusan saya. Memakai foto karya Mas Lulu Lutfi Labibi, ketika kami mampir ke studionya, di Kota Gede. Ari memikirkan lagu apa yang akan dibawakan, minimal lagu pembuka di kota terdekat (meski pasti berubah, bahkan sejak lagu pertama pun ☺), sementara Felix sudah sibuk sejak jauh-jauh hari dengan jadwal, hitung-hitungan, urusan tiket, tempat tinggal, jualan merchandise (SEKTOR RIL!), dan dokumentasi yang lengkap.

Yihaaaa: berangkat kitaaaa!

Yang Gampang Aja!
Menuju Surabaya, kami hanya bertiga: Ari, Felix, dan saya.

Tinggal di penjuru kota yang berbeda dan kesibukan sendiri-sendiri, maka berangkatlah Felix ke Surabaya jam 09.35 pagi dari Halim, membawa koper jualan CD, koper baju saya, dan cagak*. Ari menyusul lewat Cengkareng jam 10.00, bawa gitar.

Saya, yang hari itu punya kelas menulis di TIM (selesai jam 12.00), baru bisa menyusul ke Halim, mengejar pesawat jam 14.05. Terpujilah pencipta ide Gojek: saya bisa mencapai lokasi dalam 30 menit saja, padahal kondisi jalan hari itu super padat ditambah hujan gerimis. Selagi saya masih di udara, Ari dan Felix sudah menuju lokasi, buat cek suara dan bunyi di UNESA.

“Itulah keuntungannya grup kecil, Red,” kata Felix, “Serba ringkes, gampang.”
Sepakat. Tapi mungkin ini jadi ringkes karena Felix piawai dalam membuat perencanaan. Coba lihat buku catatan tanpa garisnya, yang selalu ditulisi dengan teks huruf capital semua itu: apa yang ia lakukan pasti hancur lebur kalau jatuh di tangan saya.

Bayangkan, untuk tur selama 8 hari di 6 kota dengan 7 pertunjukkan, Felix mengatur soal sound, dokumentasi, merchandise, di luar kegiatannya sendiri jadi pembicara. Ia harus mengatur tanggal berapa Agus Leonardi , sound engineer AriReda bisa berangkat. Di luar tanggal itu, Ralmond Farly jadi pelaksananya. Lalu soal dokumentasi ada Yose Riandi,  Krisna Putranto dan Swandi Ranadila  yang datang khusus dari Jogja. Kami bertemu di Solo. Sementara itu, Indriatma Sitorus yang jadwalnya luarbiasa heboh, mengurusi merchandise kami di beberapa kota.

Karena tahu apa yang harus dilakukan, maka tak ada yang ribet buat Felix. Malah semua tampak ringkas-ringkas saja. Saya bisa bayangkan muka dan reaksi Felix membaca bagian ini. Terserah. Dia memang gitu. Keren.

18 November, UNESA – Surabaya
Sore, saya sampai di Surabaya: hujan deras.
Ari dan Felix belum kembali dari cek sound.
Lewat pesan WA, Ari bilang kalau jadwal main bisa mundur, hujan deras!
Baiklah, kalau begitu saya bisa gosok baju dulu.

Ternyata setelah gosok baju, saya malah ketiduran. Terbangun ketika pesan lain datang: Kita kumpul di bawah jam 8 yaow! –dari Felix.
Lihat jam: wah sudah tinggal 30 menit. Untung rambut saya sangat pendek, jadi nggak perlu sisiran apalagi blow dan catokan. Baju sudah digosok juga. Yuk, ah!

Jemputan datang jam 20.30. Jadwal main mundur lagi karena hujan sore tadi membasahi semua bagian panggung yang mengambil tempat di tengah lapangan kampus itu. Perlu dikeringkan. Perlu memastikan sound tetap aman.

Adalah Bima dan Elsa yang menjemput kami. Dua mahasiswa yang tak henti ribut soal arah jalan. Bima pandai nyetir tapi nggak tahu jalan. Sementara Elsa hafal semua jalan di Surabaya tapi nggak bisa nyetir sama sekali. Jadi instruksi yang ia berikan berupa perpaduan antara arahan jalan dan peringatan agar pelan-pelan, jangan ngebut, ada polisi tidur, ada tukang jualan di sisi kiri, ada tukang sate di sebelah kanan. Hebatnya Bima bisa begitu sabar menerima semua petunjuk yang sangat padat ramai dan tumpang tindih itu. Kalau saya…. Bye! #nggakusahdibahas

Ini untuk kedua kali kami main di Surabaya. Yang pertama, tahun lalu, di C2O.

Tahun ini, pelataran kampus UNESA yang dikelilingi pohon besar menjadi tempat AriReda memulai tur. Oya, Bima yang tadi mengantar kami langsung berganti kaos. Selain jadi LO dia juga jadi pengisi acara malam itu, pas sebelum kami. Ya ampun hebat banget sih kamu, Bim!

Sambil menunggu Bima selesai, kami mangkal di salah satu ruang kelas. Menyusun lagu apa yang akan dibawakan nanti. Di luar ruangan, di pendopo, ada latihan gamelan yang kabarnya bisa berlangsung hingga dini hari.

Ketika giliran sudah dekat, kami keluar ruangan. Di pojok koridor menunggu seseorang. Dia menyapa Ari. Dan saya (emang kesukaannya) nimbrung. Berkenalan kami dengan Dannyali. Dia datang dari Kediri, dan baru tiba beberapa jam lalu. Jarak sejauh 124 km ditempuhnya dengan naik motor untuk bertemu dan bisa menyanyi bersama kami. Astaga.

Menuliskan ini saja saya jadi brebes mili lagi.
Dannyali, terima kasih ya. Sangat.

Malam itu, kami menyanyi dengan suka ria. Sejak lagu pertama sudah ditemani menyanyi oleh sahabat-sahabat dari UNESA. Bahkan Gadis Peminta-minta, bisa dinyanyikan dengan lantang oleh semua yang hadir malam itu. Rencananya kami menyanyi 10 lagu. Ujung-ujungnya jadi 15 nyanyian. Sementara itu, gamelan yang tadi terdengar begitu lantang ketika kami berada di kelas, mendadak jadi pemanis di semua lagu kami. Selaras.

Ah, UNESA, Surabaya: kalian bikin kami bahagia malam itu. Terima kasih. Kami akan kembali lagi. Janji.

Kami pulang dengan hati riang. Kembali diantar Elsa dan Bima. Kembali juga terdengar percakapan simpang siur yang tak ada habisnya soal arah jalan dan rambu-rambu, juga polisi tidur, terdengar. Betapa menggemaskan kalian berdua itu. Kami mampir sebentar di Alfa Mart, membeli perlengkapan makan malam buat Ari yang akhir-akhir ini  kesulitan menelan makanan dengan baik dan mudah.

Lewat tengah malam kami mencapai hotel.
Beberes bawaan, siap untuk besok: menyambut pesawat pagi yang akan mengantar kami ke kota berikut: Solo.

Catatan:

*cagak = music book stand

Busana & Foto: Lulu Lutfi Labibi

 

 

 

 

2 Comments

Leave a Reply