Tahun Baru, Hidup Baru

Hari ini, seminggu yang lalu, perusahaan tempat saya bekerja memasuki babak baru. Perusahaan asal Prancis yang bekerja sama dengan Jepang, dan sudah 50 tahun berkarya ini, dialihkan kepada Indonesia.

Pidato pimpinan kami di malam terakhir itu sangat mengharukan. Mata mendadak hangat. Hidung tersumbat tanpa permisi. Apa yang kami alami ini memang bukan hal biasa.

Saya yang baru lima tahun bergabung saja sudah terharu biru nggak karuan sejak beberapa minggu terakhir ini. Apalagi mereka yang sudah puluhan tahun bekerja di sini.

Januari 2012, setelah beberapa minggu sebelumnya selesai dengan proyek majalah gaya hidup/lisensi Amerika dari Gramedia Majalah, saya masuk perusahaan minyak dan gas dari Prancis ini. Sungguh nekat kalau mengenang hari itu. Karena saya pada dasarnya tak punya pengetahuan apa pun tentang dunia minyak dan gas. Saya tahu minyak tanah, minyak bumi, gas buat masak…. Tapi bukan itu yang saya jalani. Bahkan bensin pun tidak nyangkut di sini. Ini dunia yang betul-betul baru buat saya.

Sejak bekerja untuk pertama kali, sebelum lulus kuliah, saya percaya bahwa semua ilmu bisa dipelajari. Sehingga dengan keyakinan itu tawaran bekerja di Total E&P Indonesie saya ambil.

Lima hari pertama di sana, setiap pulang kerja kepala saya pening. Masalahnya, di setiap kalimat yang saya temui dan dengar, yang saya kenali hanya kata sambung, dan kata sifat. Tapi topiknya, subyek kalimat, dan kata kerjanya: tak terdeteksi. Itu pun masih diberi bonus berupa aneka singkatan yang bukan main banyaknya yang tak terduga asal kata pembentuknya.

Pencerahan di akhir minggu pertama: Betul, semua bisa dipelajari. Tetapi ketika yang dipelajari begitu asing, diperlukanlah waktu yang lebih panjang dan usaha yang lebih keras.

Minggu kedua, saya membuat kamus kecil-kecilan di buku catatan. Pada minggu yang sama, perjalanan pertama ke Balikpapan terjadi. Catatan semakin banyak. Sebutlah christmas tree di sini bukan cemara yang penuh gantungan hiasan kaca.

Christmas tree: an assembly of valves, spools, and fittings used for an oil well, gas well, water injection well, water disposal well, gas injection well, condensate well and other types of wells.

Terjemahannya:
perakitan katup, spul, dan alat kelengkapan yang digunakan untuk sumur minyak, sumur gas, sumur injeksi air, sumur pembuangan air, sumur injeksi gas, kondensat sumur dan jenis sumur lainnya.

Sungguh jauh dari pohon Natal (Christmas tree) yang saya kenal. Ya, industri yang ada di depan mata saat ini sungguh tak ada hubungannya dengan dunia yang saya kenal sebelumnya. Untungnya saya punya tim kerja yang amat-sangat handal.

Saat bergabung, Corporate Communication Division beranggotakan 36 orang. Tim Jakarta ada 18 orang (termasuk saya sebagai kepala rombongan) dan 18 lagi di Balikpapan.

Seiring waktu, tim kami mulai menyusut. Ditambah harga minyak yang terus turun, penyusutan semakin hebat. Setiap divisi diminta mengurangi personilnya.

Ketika tulisan ini dibuat, tim komunikasi tinggal tujuh-belas orang saja. Dengan jumlah yang kurang dari setengahnya, pekerjaan ternyata tetap banyak. Bahkan cenderung lebih banyak ketimbang sebelumnya. Tapi semua baik-baik saja.

Saya yakin semua ini berkat kehebatan mereka: the communication team. Tanpa mereka, pasti saya sudah putus asa, dan mungkin menyingkir. Meski tak berlatar belakang geologi, teman-teman saya ini sangat fasih dengan segala sesuatu terkait dunia migas.

Setiap individu punya kehebatan dan ciri sendiri yang membuat tim kami begitu menyatu sekaligus unik. Kami sangat dekat satu dan lainnya.

Weanny misalnya, bisa mampir kapan saja di ruang kerja saya. Dia adalah lampu kuning saya: memberi peringatan ketika saya nyaris membuat kesalahan karena ketidak-tahuan saya akan industri ini. Kami sangat sering berdiskusi soal desain, copywriting, dan ide-ide kreatif lain. Kami bisa saling dorong, dan juga saling mencegah. Entah bagaimana, ada banyak kabel yang saling menyambung di antara kami. Satu hal yang pasti, sebagian besar kapasitas memori otak kami berdua terpakai untuk menyimpan data tentang bintang Hollywood. This is so true!

Handri yang berkantor di Balikpapan: He’s my living encyclopedia. Bersamanya saya berhasil memotong SOP, dari 68 jadi 12 saja! Semangat menghemat kami juga senada dan seirama. Kadang keputusan kami berdua saat memotong budget membuat jengkel beberapa teman. Terutama Weanny, hahahaha…. Ya, kami memang pasangan kikir. Eh penghemat.

Fitrika yang selalu meledakkan apa saja yang ada di kepala dan hatinya. Kalau saya salah langkah, langsung dia menembak. Belakangan instingnya super tajam, dia seperti bisa menduga kesalahan apa yang bakal saya lakukan. Dengan kemampuan macam cenayang ini, dia jadi jarang menembak dengan suara kerasnya itu.

Di Balikpapan ada Pak Bupati. Eh Krisna yang wajahnya selalu tampak tenang meski hati dan pikirannya sering bergemuruh. Bahkan saking gemuruhnya, bisa membuat urat stress-nya bangkit, menyerang perutnya. Satu-satunya indikasi Krisna –mungkin—perlu bantuan adalah saat matanya mendadak lebih sering berkedip dan melirik. Kalau gejala itu muncul, silakan bertanya apa yang sedang ia pikirkan. Dan ia akan bercerita, sambil mengajukan usulan solusi.

Ariono, teman diskusi saya. Mungkin karena kami berasal dari universitas yang sama: MRA Media, jadi dalam banyak hal kami super nyambung. Dengan Ariono juga saya merasa sangat nyaman berbagi cerita tentang proyek-proyek personal.

Lalu ada Shanti yang banyak temannya adalah teman saya. Pamannya, idola saya. Suaminya, kenalan saya di dunia kerja. Shanti bisa nari, suka nyanyi, tangannya terampil membuat craft. Tapi yang paling top dari Shanti adalah kesabarannya yang mengalahkan samudra. Saya tidak pernah melihatnya marah, emosi. Bahkan mengerutkan dahi pun jarang. Mungkin semua itu diredam oleh warna bajunya yang hampir selalu gelap. Kami punya selera sama dalam urusan baju dan saya meniru warna lipstiknya.

Ayu si bulldozer. Kalau sudah menjalankan satu proyek dia akan menerabas segala rintangan. Jadi seandainya dia pegang proyek dan kelihatannya adem-ayem, sebaiknya saya mampir untuk bertanya. Itu bukan Ayu banget, soalnya.

Ada Mira yang selalu dikira adiknya Deasy Ratnasari itu.
Kami sudah bekerja sama sejak di Gramedia. Jadi saya kenal betul kelakuannya: menyala terang ketika dapat proyek yang membuka laci-laci kreatifnya.

Dan tentu saja Bunga, yang seperti namanya selalu membuat suasana lebih cerah, lebih berwarna. Ketika bicara, matanya selalu berbinar. Bahkan ketika saya datang dengan setumpuk pekerjaan atau problem, dia mendengar dengan senyum dan tentu saja matanya yang berbinar. Bukan main!

Tak ketinggalan:
Marisa, the speak softly girl
Allitha, sang editor
Ria, ibu dokter kami
Aji, Pipit dan Mas Kris, sahabat para wartawan.
Audrie dan Mellinda, the dynamic duo
Eko dan Armel: you name it, they provide it.

Seminggu sudah saya tak ke bertemu mereka.
Biasanya, setiap Senin, saya bangun lebih pagi, karena ada rapat mingguan dari jam 09.00 sampai jam 11.00. Pagi tadi, itu terjadi lagi, saya berlari ke meja setrika, menyiapkan baju untuk ke kantor. Ketika mulai menggosok baju, tiba-tiba tersadar: saya tak lagi bersama mereka. Jadwal rapat mingguan terhapus sudah.

Hari-hari saya telah berubah.
Saya punya sederet pekerjaan yang harus diselesaikan, dan itu membuat hati gembira. Tapi di sela keriaan itu, rindu saya pada teman-teman itu tak juga surut.
Mungkin tak akan pernah.

Teman-teman, untuk kerja sama kita selama lima tahun ini: TERIMA KASIH lagi dan lagi. Untuk perjalanan selanjutnya, sukses buat kita semua. Don’t be a stranger, Guys.

#missyoualready

2 Comments

  1. Millyani Sukristiati

    Selamat menjalani kesibukan yang lain Bu Reda….jangan lupa utang nya di lunasi…janji mau jumpa sang jagoan Betmen…tak lagi Ada alasan masih miting di kantor atau tugas ke luar kota….masukin dalam agenda berjumpa Betmen Dan Papie Bimo yaaaa……pleaseeeeeeee……

    • Maturnuwun sanget, Milly!
      Iya nih sudah merdeka jreng.
      Siap diajak gawul sama Milly dan Papie Bimo.

      Berangkaaaaat!

Leave a Reply