MERDEKA!

Kenapa berhenti kerja?
Memang sudah waktunya pensiun?
Masih tiga tahun lagi? Terus kenapa tidak terus bekerja saja?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang hampir setiap hari sejak saya mengajukan diri untuk tidak lagi terus bekerja setelah perusahaan tempat saya mangkal selama lima tahun ini diambil alih oleh pemerintah. Saya paham betul mengapa pertanyaan itu datang. Wajar banget.

Jangankan mereka, saya saja takjub kok dengan keputusan ini: berani-beraninya berhenti bekerja sebelum masa pensiun tiba? Saya –sampai tahun 2016– membayangkan akan mengantor hingga peraturan berkata saya harus berhenti. Pensiun seperti Bapak (dia baru berhenti bekerja di umur 66 tahun, karena pensiunnya diundur berkali-kali oleh atasannya). Ternyata bayangan itu berubah total ketika saya mulai menjalani tahun 2015.

Ada apa dengan tahun 2015?
Saya menemukan keasyikan baru: nyanyi!

Lha, bukannya nyanyi sudah berkali-kali dan bertahun-tahun sejak jaman kuliah? Yo i! Tapi nyanyi-nyanyi yang berlangsung sejak 2015 itu beda banget dari sebelumnya. Tiba-tiba kegiatan yang satu ini mendominasi akhir pekan saya. Kadang-kadang, setelah selesai mengantor pun saya bisa manggung bersama Ari. Naik ojek mengejar sound check jam 5 sore, untuk manggung tiga jam kemudian. Habis manggung, bertemu dengan teman-teman baru yang super ramah, memeluk erat, tulus. Indah nian rasanya. Tidur jadi super nyenyak. Bahkan ketika waktu tidur cuma sejam-dua, bangun pun tetap senang. Lelah, tapi gembira. Ngantuk tapi semangat. Ajaib.

Selain manggung biasa, ada TUR. Selama 8-9 hari di jalan; naik pesawat, kereta, atau bis dari kota ke kota; siang sampai, malam main, tidur secukupnya (tepatnya sangat kurang); pagi berangkat dan mengulang itu lagi dan lagi…. Ya ampun sedapnya bukan main! BUKAN MAIN!

Saya dan Ari menjalani tur pertama di Indonesia (ciyee, ciyeee) tahun 2016, setelah tahun sebelumnya kami nyanyi di Jerman dan Belanda.

Di tur pertama itu, kami main di Jakarta,Jogja, Surabaya, Malang, Bali, Makassar. Disusul tur 2017 ke Surabaya, Solo, Salatiga, Semarang, Malang, Karawang. Ditambah kota-kota lain yang kami datangi secara lepasan: Bandung, Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, dan Sukabumi. Dalam tur itu….

Sik, sik, kok jadi cerita soal tur sih?
Kembali, kembali ke asal muasal cerita.
Sampai mana tadi?
O ya, saya teramat sangat menikmati kegiatan nyanyi-nyanyi ini.

Rasa yang menghangatkan dada setiap kali menyanyi dan bertemu teman-teman baru, mengalami hal-hal indah di setiap –ya di setiap- pertunjukkan, membuat saya tak ingin berhenti menyanyi. Bahkan menguranginya pun saya tak rela. Saya mau tambah dan tambah lagi! Tapi, tapi, kalau mau ditambah dosisnya, kapan dikerjakannya? Wong saya masih kerja, jadi pegawai! Tahun kemarin saja cuti saya sudah minus 3 hari, je!

Pada suatu hari, datang keputusan tentang status Total –kantor saya- yang akan diambil alih pemerintah. Semua karyawan ditawari untuk melanjutkan bekerja di kantor baru. Entah bagaimana, hati saya mendadak beku. Ajakan bergabung di kantor berikutnya tidak menggoda sama sekali. Saya pikir itu hanya kondisi sesaat, maka saya tunggu beberapa waktu…. Ternyata semakin ditunggu, semakin tak ingin. Dan untuk urusan pekerjaan, saya selalu, selalu, selalu menuruti rasa yang muncul. Kalau tak ingin, tak akan saya teruskan. Karena kalau dipaksa, nggak akan asyik hasilnya. I know that for sure. Lha wong sudah 13 kali pindah kerja, masak nggak belajar juga sih? Ya kan?

Maka, setelah pikir-pikir, hitung-hitung, saya putuskan berhenti bekerja bersama dengan habisnya kontrak Total di Indonesia. Saya mau nyanyi-nyanyi lebih sering lagi. Pagi, siang, malam, Senin sampai Jumat, akhir pekan…. Mari!

Nggak sayang?
Nggak.

Sejak memutuskan berhenti setahun lalu sampai hari ini, saya merasa ini adalah keputusan yang sangat tepat. Keputusan itu membuat hati ini terasa lega, plong. Tenang. Memang selama 9 pagi terakhir ini saya masih kaget melihat matahari sudah tinggi: aih telat lagiiii! (alarm sudah saya matikan, tidak lagi berbunyi jam 5.30 pagi). Tapi dengan segera pula saya bisa senyum selebar-lebarnya: mari kembali pada bantal, guling… Sumpah sedap banget rasanya!

Jadi untuk pertanyaan ini:
Kenapa berhenti kerja?
Memang sudah waktunya pensiun?
Kalau masih tiga tahun lagi, kenapa tidak terus bekerja saja?

Jawabannya:
Berhenti bekerja karena saya punya pilihan lain untuk berkegiatan, yang bukan mengantor setiap hari. Kelihatannya juga tak cuma menyanyi. Ada lagi (daftarnya sudah lumayan panjang, semoga bisa terjalani dengan segera, hehehe).

Waktu pensiun memang masih lama, tapi saya tak ingin mengantor lagi, karena kegiatan yang saya jalani terlalu mengasyikkan. Dan selagi bisa dan memungkinkan, saya memilih untuk merdeka.

Merdeka melakukan yang menyenangkan hati, yang membuat jantung berdebar riang, yang membuat mata terbuka, dan senyum tak bisa ditahan.

Begitulah.
MERDEKA!

28 Comments

  1. Yey, Mbak Reda bakal lebih sering nyanyi, bikin album, dan nulis buku! Selamat menjalani masa “pensiun” yang produktif dan menyenangkan, Mbak. Gak sabar dengar dan baca karya-karya barunya.

    • Terima kasih, Roosie.
      Ini lagi gembira ria.
      Dan itu berarti lagi main terus, dalam arti yang sesungguhnya, hahahaha

      SEkali lagi: terima kasih ya.
      r

  2. Milly Soeseno

    Ikuti kata hati ya Bu Reda….apa pun itu kalau di jalani dengan riang gembira gak bakalan capek….sukses buat langkah2 selanjutnya…..tetep jaga kesehatan nggih…..Merdekaaaaaaa !!

  3. Mbak Reda dear, inget dulu kita ketemuan di Sabang, bilang mau pindah ke Total. Ternyata ga berasa sudah berapa tahun lalu ya. Happy baca cerita ini, akhirnya mbak Reda bisa menikmati passion secara full time.

    Sukses terus di semua kegiatan. Ditunggu dg suka cita karya karya berikutnya. (Buku yg terakhir belum punya nih).

    Btw, aku juga sdh cabut dari Sony, skrg sdg ‘ngelurusin dengkul,’ dan menikmati pelukan bantal guling hihi, sembari siapin buku berikutnya.

    Cheers

    • Wah, iya ya….
      Ketika itu Sundari justru memutuskan kembali ke Sony.
      Mungkin waktu 5 tahun adalah waktu yang pas untuk melihat kembali keputusan kita.
      Terus atau menemukan sesuatu yang baru, ya Sundari.
      Selamat meluruskan kaki, melapangkankan hati, menyenangkan jiwa.

      Dinanti buku berikut.

      buku terakhir?
      monggo cek ke Post atau demabuku, Sun.

      Have a great weekend.
      r

  4. Hi Mbak Reda!

    Aku pun ingin MERDEKA. Berhenti menjadi budak kapitalis. Tapi, aku tak bisa bernyanyi dikarenakan suara ku yg sumbang tanpa kepalang.

    Aku suka traveling tapi tak cakap juga dalam menuliskan nya menjadi sebuah blog atau buku.

    Fotografi, aku suka tapi jg kebanyakan hasilnya blur seperti melihat tanpa kacamata.

    Apa aku harus mati saja? Hahaha!

    Cheers,
    Ayu

    • Ayu Sayang,
      Menjadi merdeka tak pernah saya bayangkan terjadi. Bahkan saya merasa akan tetap jadi pegawai hingga tak bisa kerja lagi.
      Ternyata perjalanan berkata lain.
      Menurut saya, Ayu bisa sangat untuk memulai sesuatu dari yang disebut tadi itu: menulis perjalanan. Pasti bisa. Semua orang bisa menulis, Ayu. Dan foto? Ah, pasti bisa jugaaaaa!
      Selalu dan selalu dan selalu ada jalan.
      Semangat Ayuuuuu! Semangaaaaaat!
      Kunanti catatan perjalananmu, ya.

      r

  5. Keep on singing my dear…. Follow your heart and be happy. I am rooting for you from across the ocean.

  6. Asyik, keputusan besar tapi semoga selalu membahagiakan hati ya Mbaaak. Menunggu buku baru Mbak Reda lagi 🙈

    • Terima kasih Aisha.
      Buku baru akan muncul akhir Januari ini.
      Mohon doa agar proses lancar, ya Aisha.

      salam,
      r

  7. Selamat menikmati ‘pensiun’ yang tidak pensiun, Mbak Reda.

    Sekarang saya sedang menapak jalan supaya bisa pensiun di usia muda dari menerjemahkan. Tidak mudah, tapi saya yakin bisa. Sehat terus ya Mbak, supaya bisa terus berkarya di mana pun Mbak berada.

    Tabik.

    • Betul, Bli
      Ini adalah “pensiun” yang bukan tidak pensiun.
      Sangat keren kalau Bli bisa mulai menyiapkannya sejak sekarang. Saya termasuk yang sangat terlambat menyiapkan diri, Bli.
      Semoga semesta beserta kita selalu, ya.

      Salam sayang,
      r

  8. selamat memeluk guling mbak. nikmat betul.
    saya berpolitik dengan keadaan, pindah kota… agar bisa menambah waktu kencan dengan guling… 😞 belum berani pensiun.

    • Bekerjalah selagi mengasyikkan, Jaz.
      Tak juga harus tergesa pensiun.
      Ini saya berani melakukannya karena keadaan sangat mendukung.
      Lima tahun lalu, tak terbayang saya bisa melakukan ini.

  9. Di mana-mana para pensiunan buka warung, bengkel, jualan online, atau usaha apa aja yang bikin tubuh tetap bergerak dan otak terus terasah. Lha ini malah jadi penyanyi. Kok asyik dan beruntung banget hidupmu mbak. Sebuah keasyikan yang belum pernah saya dengar dari mereka memilih pensiun awal. Salam bebas dan merdeka.

    • Ah, Ramadhan….
      Jualan online malah sudah duluan sebelum pensiun, malah sekarang nggak kepegang.
      Perjalanan tiga tahun terakhir ini memang mengherankan, Dhan.
      Tidak terbayang kesibukan menyanyi begitu seru dan menyenangkan dan menghasilkan.
      Betapa berbeda dibandingkan tahun-tahun kami mulai dulu.
      Begitu ceritanya.

      Apa pun, kemerdekaan dan kebebasan ini memang layak dan mesti kita rayakan, ya Dhan.
      r

  10. Selain itu, alunan suara Mba Reda yang menyatu (kalo boleh bilang) sempurna dengan Mas Ari itu merupakan pemberi inspirasi tingkat tinggi. Kami butuh lebih banyak lagi dari AriReda. Yiiihhhaaaa!!!

    • Aduh, Joe…
      Terima kasih sangat.
      doakan dua orang ini sehat-sehat, yaaaaa….

      Oya, tanggal 27 Januari ini kami akan main di IFI, Joe. Siapa tahu sempat nonton.

      • Amin! Sehat dan sukses selalu ya buat AriReda! Jangan berhenti untuk menyanyikan nada2 merdu buat kami yaaaa….
        Siaaaap Mba Reda, sudah aku catat dalam agenda! ❤️

  11. Mbak Reda, selamat pensiun! Semoga selalu menyenangkan hari-harinya… 🙂

    Suka sekali dengan ini: Kalau tak ingin, tak akan saya teruskan. Karena kalau dipaksa, nggak akan asyik hasilnya.

    Aku jadi sedikit lega dengan tekadku utk nggak lanjut di kantor lama karena sangat sangat sangat tidak nyaman. Awalnya merasa sangat bersalah. Tapi sekarang jadi mikir lain, leaving for good. Dan bersiap jadi pekerja lepas atau sampai nanti bertemu kantor yang cocok dengan hati. Bismillah!

    Love

    • Saya selalu percaya pada suara hati.
      Ketika hati tak gembira -khususnya dalam urusan kantor, bahkan sejak hadir untuk wawancara pertama- saya pilih mundur.
      Hati ini terlalu berharga untuk dibuat susah, Dee.
      Selamat menjadi pekerja lepas. Dan ya: menemukan satu tempat yang cocok juga perlu diupayakan terus.
      Di umurmu, saya rasa bekerja di kantor/perusahaan akan membuat kita lebih kaya, nanti.

      Love you much.
      always,
      r

Leave a Reply