10 Hari Pertama :)

Jadi apa yang saya lakukan selama 10 hari terakhir ini?

Hari pertama di tahun 2018, saya berada di Balikpapan setelah malamnya bertugas di acara alih kelola Total kepada Pertamina. Acara selesai tengah malam, pulang ke hotel menyusuri jalan yang penuh manusia (Balikpapan pesta tahun baruan di jalan pun!), sementara kaki cekot-cekot karena sok gaya pakai sepatu hak tinggi dan ujung lancip. Hampir jam 2 pagi tiba di hotel. Besoknya saya bangun jam 10, beberes koper, ditraktir Weanny makan siang di Warung Bu Tia, lalu balik ke Jakarta.

Hari kedua, 2 Januari, alarm menjerit jam 5.30 membuat saya terlompat dan lari ke meja setrika: gosok baju buat ke kantor! Kaki yang terantuk meja kayu –buset sakitnya bukan maiiin!- membuat saya sadar bahwa tiada guna tergesa setrika baju. Buat apa? Kan sudah tidak berangkat ke kantor lagi. Badan nyaman seketika, mata mendadak berat. Saya kembali ke tempat tidur. Bangun lagi jam 10. Hebat!

Rencananya nih: beberes rumah yang berantakan maksimal. Tapi badan pegal-pegal nih. Maka saya berangkat mencari tukang pijit tercinta di satu pojokan Jakarta Pusat. Eh, dia lagi nganggur. Cakep! Karena sepi jaya, dia memijat sampai 2 jam padahal janjinya tak lebih dari 1 jam. Duh, masuk surga kamu, Mbak. Setelahnya, segala kabel eh urat kusut kembali terurai, lurus. Kepala enteng, badan enak, dan betis pun empuk. Berikutnya? Pulang! Sekali-kali bolehlah masuk rumah di saat langit masih bermatahari. Pas bis Trans Jakarta menuju TUGAS kosong pula. Ah, rejeki memang nggak ke mana. Mari!

Di rumah, tempat tidur seakan memanggil. Baiklah, saya berbaring sebentar. Sedikiiiiit saja. Oh ternyata sebentar itu bisa dua jam. Ketiduran lengkap dengan mimpi. Menurut saya, ini tuntutan badan yang selama ini kangen tidur siang tapi nggak pernah kesampaian. Jadi ketika saatnya tiba, dia tak mau sia-siakan. Mungkin khawatir si pemilik badan nanti berubah pikiran: balik bekerja entah di mana keesokan harinya. Hahahaha….

Besoknya, dan besoknya lagi saya tak juga beberes.
Kamis, saya mengantar Mr. Swami ke dokter. Ada sesuatu di jari manis kakinya yang bikin saya khawatir. Lha itu kaki siapa ya, kok yang mules malah saya. Betul kata orang, gajah di seberang lautan tampak, luka di kaki sendiri nggak kelihatan.

Setelah itu, hari berikutnya diri sendiri: rahang sebelah kanan seperti bergeser dan bunyi glotak-glotak gitu setiap kali saya membuka mulut. Aduh, bagaimana kalau nyanyi nanti? Bisa-bisa bunyi glotak-glotaknya masuk mike. Bonus: setiap kali bicara agak lama, saya menguap berkali-kali. Untung sudah nggak ngantor atau meeting. Kalau iya, saya dianggap berlaku kurang oke pun. Bahaya. Maka berangkatlah saya ke Sinshe di Pluit. Jauh? Banget. Demi rahang. Di sana, muka ditusuk jarum kecil dan halus. Nyelekit-nyelekit ngeselin rasanya. Tapi setelah itu, glotak-glotaknya hilang. Legaaaaa!

Akhir pekan, saya habiskan dengan ketik-ketik. Ada banyak PR yang harus selesai segera. Salah satunya, menyelesaikan novel yang mandeg karena mati gaya dengan setting-nya. Nah, saat di Balikpapan itu muncul ide yang rasanya bakal membuat cerita ini bisa lebih lancar. Ketika dicoba, betulan lancar. Setidaknya 21 halaman selesai. Nayamul!

Senin: saya ke kantor. Ada dokumen yang harus ditanda-tangani, diserahkan, diurus. Wah, ke kantor di hari kerja tidak untuk bekerja itu beda rasanya, lho. Hari itu, dengan baju terusan kotak-kotak + legging + sepatu warrior buatan Cina + tas ransel Fjalraven (ini bacanya gimana sih?) Kanken warna biru, saya bertemu dengan teman-teman yang sekarang harus pakai seragam putih di hari Senin. Mereka bilang muka saya super cerah. Oya? Oya? Oya?

Hari berikutnya, saya ke sana lagi untuk urusan bank.
Mamaaaaaa: antrinya lama banget! Dari jam 10 saya duduk di sana, baru dapat giliran jam 12.30. Untung Mbak Petugas ramah. Meski tak seramah ketika menghadapi nasabah sebelum saya, seorang mas-mas ganteng yang membuat si Mbak tertawa tak henti. Urusan bank selesai jam 13.30.

Habis makan siang, berangkat ke Pluit. Rahang yang sudah oke tempo hari, eh glotak-glotak lagi. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Aduh. Penyebabnya? Saya rakus menghabiskan dendeng beberapa malam lalu. Sambil menancapkan jarum di muka, sinshe bilang jauhi kacang, dendeng, dan semua yang keras juga liat. Kwetiau? Boleh. Maka begitu sesi nyelekit di muka, saya mampir ke pasar Muara Karang, pesan menu kwetiau goreng lapchiong (terima kasih Dyan untuk ide menunya!). Pulang naik Uber, sepanjang jalan disapa dengan Cik oleh Koh Rudy, sang supir.

Rabu: akhirnya bisa bangun pagi dengan sangat santai. Jam 10 saja, Kak! Habis mandi, latihan cello. Sudah seminggu tak disentuh, padahal Pak Guru sudah selesai liburan, pasti ngajak latihan. Jari-jari pedes. Sukurin: siapa suruh nggak latihan! Entah berapa lama saya latihan, sebelum berhenti setelah main makin ngaco (piye tho?). Istirahat sik.

Melirik telepon genggam: eh pesanan DVD dan buku saya sudah tiba. Mari dijemput. Sekalian beberes rambut yang sudah gondrong. Sekalian mewarnai kuku. Pulangnya saya diantar pulang oleh pak Ojek langganan (bis pasti penuh sesak di jam saya pulang kemarin itu). Sampai rumah, langit masih cukup terang. Malamnya, saya ketik-ketik di kedai gaya London yang dekat sekali dengan rumah. Hasilnya adalah catatan yang kemarin kalian baca itu.

Hari ini, kembali ke RS. Ternyata waktu yang terpakai sangat panjang. Dokternya kebanjiran pasien. Susternya riwil, minta dijiwit. Petugas pendaftarannya asik main game, sambil melempar senyum manis ke sesama rekan kerja. Oh semesta, panjangkanlah usus eh sabar saya sedikiiiiit saja. Nggak asyik nih kalau saya mulai emosi. Percayalah! Sekarang, lewat jam 8 malam, dengan mood yang jauh lebih baik, saya kembali di kedai gaya London ini. Membuat desain kaset AriReda yang akan dirilis tanggal 27 Januari nanti. Eh, si Mbak yang bertugas sudah mengenali. Senyumnya lebih manis dari kemarin.

Buat besok: maunya latihan cello sebelum memulai segala kegiatan.
Cello itu aneh. Kalau lama tak latihan, rasanya tak kangen. Tapi begitu mulai latihan, jadi kepingin lagi dan lagi. Ya semoga makin lancar mainnya sehingga bisa bikin Pak Guru senyum lebar.

Jadi, sampai sejauh ini semua berlangsung dengan menyenangkan.
Yang kurang oke cuma satu: saya sering terbangun jam 1 atau 2 pagi. Dipaksa tidur, susah. Tiada lain, saya cari kegiatan yang menyenangkan: nonton film. Satu dua film selesai sebelum saya tidur lagi setelah jam 5 pagi, untuk bangun jam 10. Eh, kalau ini sih oke banget, ya? Ya nggak? Ya dong.

Ah senang.
Banget.
Yuk, ah.

#merdeka!

6 Comments

Leave a Reply