WHY NOW? WHY NOT!

Sabtu ini, 27 Januari 2018, bersama Ari Malibu, saya akan main/menyanyi di Institute Francais d’Indonesie (IFI) Jakarta.

Setelah beberapa lama tidak main di Jakarta, minggu depan itu kami akan main panjang (meminjam istilah Felix Dass). Main panjang berarti menyanyi lebih dari 10 lagu. Untuk itu kami merasa perlu untuk latihan. Ini hari ketiga saya di Bandung, latihan bersama Ari, mengambil tempat di Ruang Putih.

Kemarin malam, kami mencatat (bukan membuat set list) judul-judul lagu yang sudah kami rekam tahun lalu. Ternyata lumayan banyak. Ditambah lagu-lagu dari tiga album terdahulu, kami semakin bingung mau memainkan lagu-lagu mana saja nantinya. Begitulah, kesulitan kami setiap kali: sulit sekali menentukan pilihan dan setia pada pilihan itu. Kesulitan yang … sebenarnya menyenangkan. Karena mengganti lagu di panggung itu mengasyikkan.

Penyebab perubahan itu: penontonnya.
Reaksi yang diberikan, teriakan judul lagu yang datang di sisi kiri, kanan, belakang, depan panggung, membuat kami jadi ingat lagu-lagu yang kemarin tak terpikirkan. Dan setelah dirasa-rasa (dalam sekian detik), memang lebih asyik ketimbang lagu berikut yang ada di set list kami.

Tentu saja ada yang gemes dengan perubahan yang kami lakukan: lighting/set manager yang mengatur mood cahaya. Sudah disiapkan lampu benderang untuk lagu berikut yang bertempo cepat, tiba-tiba kami memilih lagu yang super lambat dan “pedih”. Lebih mengesalkan lagi kalau pertunjukkan itu akan direkam…. Nah, supaya tidak terlalu merepotkan proses berikutnya, Felix selalu wanti-wanti sejak awal. Lagu dari nomor sekian sampai sekian, harus FIX. DILARANG DIUBAH, DIGANTI, DIACAK-ACAK. Sebelum dan setelahnya boleh ganti. Clue-nya? Pakai omong-omong, misalnya saya menyebutkan bahwa sekarang kami sudah sampai di lagu nomor sekian. Atau, kami menyebutkan judul sebelumnya dan yang berikutnya. Sehingga yang merekam di ujung ruang tenang hatinya.

Sungguh, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan rajin manggung seperti sekarang. Bahkan menjadi alasan utama saya memerdekan diri dari kerja kantoran. Padahal ada masanya saya berkali-kali ingin menyudahi kegiatan nyanyi kami. Habis, apa serunya? Manggung jarang, tak setahun sekali. Sepi order. Dipertahankan tak jelas tujuannya apa.

Lalu tahun 2014 mengubah segalanya.
Ajakan bermain di RRRecFest in The Valley oleh Indra Ameng dan Keke Tumbuan membuat kami bertemu dengan orang-orang muda yang begitu antusias pada musik kami. Di sini juga kami bertemu Felix yang kemudian mengurusi kami dengan kesabaran tingkat tinggi. Beberapa bulan kemudian, di Coffeewar-nya Yogi Sumule kami bertemu David Karto, dan album kedua (berjarak 8 tahun dari yang pertama) pun direncanakan.

Tahun berikutnya AriReda punya cerita yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kami main di LCLR, ikut ke Jerman, main di Belanda, tur, rilis album baru yang dikerjakan sepenuhnya di GrooveBox, manggung di berbagai acara, termasuk private events, dua kali album kami terpilih menjadi album pilihan oleh Majalah Berita TEMPO…. Tahun lalu, kami bermain lebih dari 80 kali (52 akhir pekan + hari kerja lain)! Kami mendapat begitu banyak sahabat baru di seluruh penjuru negeri dan belahan bumi.

Dalam banyak kesempatan, setiap kali tampil, banyak penonton baru yang kaget melihat kami berdua. Banyak yang tak menduga kalau kami memang tak sepantaran dengan penyanyi-penyanyi idola mereka yang lain. Apakah itu penting untuk di-highlighit? Menurut saya, tidak. Tapi tak bisa juga disalahkan keheranan itu, karena kegiatan kami bukan hal yang lumrah buat banyak orang. Bahkan untuk teman-teman saya.
Bahkan mungkin untuk banyak orang. Mungkin juga termasuk Anda yang membaca tulisan ini.

Tahun ini, usia saya 55 tahun, menuju 56 tahun.
Di usia ini, beberapa teman berkomentar bahwa  kami terlalu pencilakan. Tidak ingat umur. Contohnya: manggung sana sini, menjalani tur selama 8 hari, main di 7 kota, manggung 9 kali.

Umur 25 tahun sudah lama lewat. Tetapi saya merasa lebih beres jadi orang di usia sekarang ketimbang usia 25. Gairah untuk melakukan banyak hal itu tak ada di umur-umur itu. Bahkan sekarang lebih menggila ketimbang saya umur 25 atau 35 tahun. Menyala, panas, tak terbendung. Apa yang saya nyanyikan di umur 25, membawa makna yang berbeda di usia sekarang. Baris puisi yang kami nyanyikan tiba-tiba menemukan konteksnya. Pesan yang disampaikan jadi begitu jelas, sehingga ketika menyanyikannya tahu seperti apa mood-nya agar bisa lebih dipahami (setidaknya buat diri sendiri).

Age is an issue of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter.
Begitu kata Mark Twain, dan saya sepakat. I really don’t mind. It doesn’t matter either. Betul, fisik kita berubah. Tapi apa yang salah dengan perubahan itu? Bukankah bertambah umur, adalah berkat, hal yang indah dan harus disyukuri, karena itu berarti kita masih diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu. Berbagi. Harus diingat, tidak semua orang mendapat berkat untuk bertambah umur. Bahkan untuk sehari lebih panjang sekali pun.

Hidup itu soal menentukan pilihan.
Saya memilih hal yang lebih penting buat saya: melakukan apa yang ingin saya lakukan, saya nikmati. Yang penting: sepanjang saya senang dengan rasa yang ada di dada sendiri, dan sedap di mata saya sendiri. Itu sudah lebih dari cukup. Itu pantas dan perlu dirayakan.

Sejak Januari 2018 saya tak lagi jadi pegawai dan memutuskan untuk memeluk erat urusan musik ini. Keputusan ini saya umumkan di sebuah forum terbuka. Seorang teman yang hadir di acara itu bilang saya gila. Why now, ia bertanya.
Saya jawab: why not! Kesempatan untuk merdeka itu datang, saya pilih untuk meraihnya. Gunakan. Bagikan. Rayakan.

Sekitar sebulan lalu, seorang teman yang lain menitipkan pesan untuk disampaikan kepada kami. Isi pesannya: tolonglah ingatkan Ari dan Reda supaya tahu diri, lupakanlah kegiatan bermusik ini, waktunya sudah lewat. Memangnya mau jadi apa sih?

Buat teman yang menitipkan pesan itu, inilah jawaban saya.
Apa yang akan dilakukan: bermusik, menulis, berkesenian, …
Apa yang pasti dilepaskan: duduk diam dan menyesali APA YANG TIDAK KAMI LAKUKAN.
Waktunya sudah lewat: waktu tidak pernah lewat, kita yang melewati waktu dengan berbagai hal yang kita pilih. Saya memilih melewatkannya dengan melakukan hal yang menyenangkan. Main musik, menulis, menggambar, mengajar, berbagi ilmu….
Mau jadi apa: mau jadi versi terbaik dari diri sendiri dengan mengingatkan siapa saja bahwa passion itu ada dan pantas diperjuangkan. Bahwa kemampuan diberikan untuk dibagikan. Tidak untuk dimatikan karena mengikuti catatan umur di KTP.

Dengan bermain di IFI Sabtu nanti, meluncurnya album baru di bulan Maret, kembali tur di bulan-bulan berikutnya, harapan teman yang menitipkan pesan itu sudah pasti tak kami penuhi. Semoga dia tak kecewa dan mangkel melihat Ari dan saya terus sibuk main musik sana sini.

Berhenti bermain memang bukan pilihan. Karena yang  menggelegak di dada, yang tumbuh di pikiran, mendesak untuk dijalani, dirayakan.
Ayo, ikut!

#merdeka

CATATAN:
Sebagian tulisan ini diambil dari presentasi saya di forum terbuka Allianz bekerja sama dengan Tedx Jakarta pada bulan November 2017.

5 Comments

  1. Baca ini berasa dejavu sama sesi diskusi kita mbak 🙂 sukseesss utk konser tgl 27! (Kepingin dateng tapi ada tugas negara sanggulan juga hiks)

    • Hola Irma!
      Iya, ini memang terinspirasi dari diskusi kita tempo hari itu. Terima kasih untuk doanya. Semua lancar jaya. Semoga lain kali kita berjodoh, ya Irma.

      Selamat dan sehat dan sukses selaluuuuu!
      r

  2. Halo Mbak Reda. Sudah lama saya ga baca blog Mbak Reda. Begitu baca, rasanya simpul-simpul di otak ikut tersulut. Senang sekaligus resah.
    Selalu menikmati gaya menulis Mbak Reda yang apa adanya dan tidak mengggurui.
    Setelah baca beberapa tulisan, saya merasa malah pengen kalau sudah seusia Mbak Reda bisa seaktif Mbak Reda. Gimana caranya ya, Mbak? Usia saya sekarang hampir 31 tahun. Kerja dari pukul 7.30-16.30, dan gamang dengan kata passion sebab saya bosenan. (malah curhat, ya).
    Sehat dan sukses selalu Mbak Reda. Semoga tidak jadi terdengar menyebalkan tapi buat saya Mbak Reda ini #lifegoal.

    Salam kenal,

    Yenni

    • rgaudiamo

      Halo Yenni,
      Apa kabar.

      Terima kasih sudah mampir lagi ke “rumah” saya.
      Semoga simpul-simpul yang tersulut, membuka jalan-jalan baru, besar maupun kecil, menuju titik cerah buat Yenni.
      Yen, you are so young. And there’s plenty of time to find your passion. Though find it earlier -of course- the better. Eh, kenapa ngomong enggres ya? Hahahahaha….

      Yen, pertanyaan yang harus dijawab saat ini cuma satu: senangkah dengan yang dikerjakan setiap hari?
      Artinya: Apakah itu membuat bangun pagi jadi menyenangkan atau memberatkan? Apakah ide-ide kecil dan besar bermunculan ketika bekerja? Kalau tidak, cari tahu apa yang bikin hati senang saat melakukannya.

      Memang apa yang senang kita kerjakan tidak selalu memberi hasil yang sama menyenangkan dari sisi materi. Itu biasa banget. Lumrah. Pilihannya ada di tangan kita: mau kerja dengan hati senang, atau kantong gembira?
      Saya –pada suatu masa– memilih yang kedua. Kantong gembira. Kenapa? Karena saya memang perlu duitnya, untuk kehidupan sehari-hari, untuk anak…. Tetapi saya tahu juga, meski nggak ideal, kerja yang memberi kegembiraan di kantong ini harus cukup menyenangkan. Paling tidak ada unsur kecil dari minat saya yang terpenuhi. Misalnya, terkait kesukaan akan menulis. Jadi copywriter, misalnya. Itu menyenangkan secara gaji, cukup membuat semangat dalam urusan ide.
      Bagaimana kalau yang dikerjakan sekarang nggak bikin gembira tapi nggak punya kesempatan cari kerjaan lain yang menyenangkan? Nggak apa-apa juga. Jalani saja. Tapi sisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang menggembirakan.
      Pulang kerja jam 16.30, bisa dilanjutkan dengan kegiatan lain: menari, menulis, fotografi…. apalah yang disuka.

      Itu akan membuat hari-hari di kantor, pada esok harinya, jadi sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan.
      Begitu menurut saya.
      Soal passion: saya baru temukan belakangan banget.
      Saya pikir nyanyi cuma hobi, keisengan belaka.
      Tetapi ketika dijalani sambil kerja, di kantor yang job desc-nya nggak terlalu menantang, justru kelihatan bahwa hobi itulah yang ternyata saya sukai banget. Juga menulis. Jadi buat saya, diperlukan pembanding –sesuatu yang nggak terlalu enak– untuk menemukan apa yang bikin hati enak.

      Yen,
      Kadang kita lupa pada passion kita karena mendadak kita kuliah di bidang yang nggak terlalu kita suka, tapi diperlukan. Atau kerja di tempat yang nggak terlalu cool, tapi gajinya asyik atau dapatnya itu. Atau waktu dan kesibukan membuat kita lupa pada mimpi masa remaja, masa kecil. Kenangan akan betapa mengasyikkannya belajar menari terhapus karena kesibukan, atau kita sendiri yang merasa itu nggak pantas….

      Usul saya: coba pikirkan, ingat-ingat lagi, apa yang membuat hati melompat saat memikirkannya. Mungkin itu passion yang selama ini dicari. Bahkan mungkin sekarang sudah dikerjakan sedikit-sedikit, tapi tak terdeteksi karena kembali terlibas oleh kesibukan yang tiada tara, rutinitas yang melelahkan, lingkungan yang tak peduli….

      Tidak perlu terburu-buru, tapi temukan.
      Begitu kira-kira.

      Semoga membantu, dan saya siap menjawab pertanyaan berikutnya.
      Sukses dan sehat selalu untukmu, Yen.

      subuh-04Maret2018

  3. Dear Mbak Reda,

    Butuh waktu beberapa lama bagi saya untuk membalas balasan Mbak Reda. Because I was so overwhelmed. Ga nyangka bakal dibalas dengan begini panjang dan menyenangkan.

    Senangkah dengan yang dikerjakan setiap hari? Ya, ada senangnya, Mbak. Tapi ya begitulah, hidup ga melulu tentang senang, saya rasa. Saya mungkin saat ini sedang ikut pilihan “membuat kantong gembira”. Sebenarnya, ya, Mbak, selepas pulang kantor kalau dipikir-pikir saya bisa melakukan banyak hal. Namun, kadang rasanya energi sudah tersedot atau malasnya yang menang. 🙁

    Saya baca balasan Mbak Reda berulang kali dan berusaha meresapinya. Sambil mikir, apa, ya, yang salah? Lalu, saya teringat dengan bagian akhir balasan Mbak Reda, “Tidak perlu buru-buru, tapi temukan.” Rasanya mungkin saya terlalu terburu-buru. Saat melakukan sesuatu, bawaannya langsung pengen bisa, pengen berhasil. Hehe.

    Wah, saya jadi curhat, ya, Mbak.

    Mbak Reda, terima kasih atas balasannya. Saya sudah bookmark. Jadi, suatu hari kalau saya sedang gamang lagi, saya akan baca lagi. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.
    Semoga Mbak Reda dan keluarga sehat dan bahagia selalu. 🙂

    Salam,

    Yenni

Leave a Reply