#nowIknow: Moisturizer

Dari dulu saya sepakat kulit perlu dirawat. Saya belajar itu dari Mak. Tetapi belajar dan praktek tidak selalu berlangsung sesuai harapan, bukan? Dan tahu akan sesuatu tidak berarti otomatis menjalankannya.

Satu hal yang saya tahu betul dalam urusan perawatan kulit–berkat ajaran Mak—muka harus dibersihkan lalu diberi pelembab. Membersihkan muka, saya kerjakan setiap mandi (jaman mandi masih rajin, dua kali sehari). Tapi soal memberi lotion atau krim pelembab…. Agak berat rasanya.

Begini, entah bagaimana, setiap kali pakai pelembab –beberapa masa yang lalu—kok saya merasa kulit yang telah bersih jadi lengket-lengket, debu deman. Kesegaran yang tadi sempat terasa, mendadak hilang. Buat saya, kata “pelembab” –waktu itu—selalu menimbulkan kesan jemek. Jauh dari rasa bersih. Jadi saya tidak mengidolakan pelembab.

Ketika masuk dunia iklan, memegang kampanye iklan sebuah produk kecantikan, saya mendapat pengetahuan baru: rasa kencang/tertarik yang muncul sehabis mencuci muka dengan sabun, adalah rasa yang TIDAK SEHARUSNYA MUNCUL! Lalu apa yang harusnya terasa di kulit muka?

Ini obrolan saya dengan si brand manager produk kecantikan itu…
“Pelembab diperlukan karena membuat kulit nyaman.”
“Seperti apa nyaman di kulit itu?”
“Ya, lembab.”
“Lembab… jemek, lengket-lengket gitu?”
“Bukan: Nyaman.”

Hey, we’re going nowhere with this “nyaman” idea!
But I’ll give another shot with this “pelembab” thing, and it’s “nyaman” feeling.

Dan mulailah perjalanan saya mencari pelembab yang tepat.Dari semua pencarian itu, satu yang tak akan saya ulang:   pakai extra virgin olive oil di muka. Menurut saya –waktu itu– pelembab tidak harus datang dalam bentuk lotion atau krim kecantikan. Saya yakin bisa dan boleh pakai apa saja sepanjang membuat kulit tidak kering. Salah satunya ya minyak zaitun. Bukankah minyak yang satu ini sering dipakai juga di berbagai produk kecantikan? Jadi kalau pakai bahan utamanya saja yang murni itu, pasti hasilnya bagus. Yakin.

Proses pakai olive oil a la Reda, seperti ini: usap merata, bersihkan dengan kapas yang warnanya langsung berubah jadi keabuan berkat debu dan daki yang sukarela menempel di situ. Terus muka dibersihkan dengan air untuk kemudian diolesi dengan minyak zaitun lagi. Kali ini (dimaksudkan) untuk melembabkan kulit. Paginya, saat bangun, kulit terasa…. BERMINYAK! Memang tidak ada rasa kencang/seperti ditarik, tapi rasa berminyak-nyak-nyak ini betul-betul jauh dari nyaman yang saya bayangkan. Pelajaran yang didapat dari pakai extra virgin olive oil: muka berminyak dan muka lembab itu dua hal yang sangat berbeda. Bonus bersyukur sekali karena kebiasaan meminyaki muka (untungnya) tidak membuat saya jerawatan.

Apa dan bagaimana hebatnya moisturizer baru betul-betul saya pahami dan alami ketika bekerja di Cosmopolitan. Pada suatu hari saya berkenalan dengan satu brand yang mengandung olive oil, lembutnya bukan main, meresap begitu cepat, tidak berminyak sama sekali, bahkan di pagi hari kulit jadi lembut. Rasanya tak bosan menyentuh muka sendiri. Ah, ini dia yang disebut NYAMAN!

Sejak hari itu, saya memutuskan untuk setia pada krim pelembab. Mungkin, tepatnya tergila-gila pada pelembab. Karena saya ingin bisa terus menikmati rasa nyaman ketika bangun di pagi hari. Apalagi kalau malamnya ada acara, keluar malam, tidur melewati jam tengah malam… saya ingin bangun pagi dengan kulit yang aduhai rasanya. Nyaman.

The Body Shop Vitamin E Moisturizer – Eley Kishimoto adalah pelembab yang sedang rajin saya bawa setiap kali keluar kota. Ringkas. Sementara di rumah, saya padukan dia dengan Oils of Life – Intensely Revitalising Facial Oil. Kalau malas, ya oil-nya saja.

Beberapa bulan lalu, berkat usulan sahabat saya, Weanny, saya mencoba Kiehls – Super Multi-Corrective Cream. Katanya bikin kulit terasa nyaman di pagi hari. Waktu dicoba, wah betul-betul gembira kulit saya. Saking enaknya, saya pakai di pagi hari juga. Nah, si Vit E, Oils of Life dan Kiehls ini saya pakai bergantian. Atau dipadu-padan, hahaha….

Apakah itu cara yang tepat? Entahlah yang pasti setiap bangun pagi kulit betul-betul terasa nyaman. Jujur, kondisi kulit saya sekarang ini rasanya jauh lebih baik dibanding jaman umur 30-an, ketika doyan pakai usapan minyak goreng, eh minyak zaitun itu.

Jadi, mungkin sampai kapan pun saya akan tetap cinta pada moisturizer. Pelembab. Mereknya boleh beraneka. Dari yang judulnya cuma satu suku kata sampai yang panjang dan susah disebut karena lebih mirip nama mesin/alat berat ketimbang produk kecantikan. Yang penting manfaatnya yang sangat menyenangkan: membuat kulit jadi nyaman.

Bukan yang memutihkan, karena saya suka dengan warna kulit sendiri yang kecoklatan. Bukan yang bikin muda, karena nanti bikin teman-teman tak mengenali saya. Bukan juga yang menghapus kerut dan garis senyum, karena saya suka penampakannya pada wajah saya. Lagi pula apa yang salah dengan kulit berkerut? Ada apa dengan garis senyum yang membekas di wajah? Justru itu pertanda yang tak ingin saya hapuskan, karena di sana tersimpan catatan atas apa yang sudah saya jalani. Buat saya menghapus garis senyum sama saja dengan menghilangkan catatan kegembiraan. Ah, jangan sampai itu terjadi. Bisa sedih saya nanti.

Itu yang saya tahu, dan saya mau.

Mari.

#lovelife
#lovemyskin
#greatfeeling
#beauty

#merdeka

Leave a Reply