AriReda: Sebuah Catatan #1

Foto: Haswinar Arifin

Foto: Haswinar Arifin

Sejak siang saya duduk di pojok kedai Tjikini. Laptop terbuka, kopi tubruk Toraja sudah tinggal sesesap lagi. Tapi saya tidak melakukan apa-ap, padahal saya ingin sekali menulis tentang kamu, tentang kita, Ri.

Rasanya terlalu banyak halyang berjejal di pintu, ingin muncul lebih dahulu. Dan saya bingung mana yang harus dibiarkan keluar lebih dahulu. Semua jadi terasa penting. Bahkan yang kemarin saya pikir masuk kategori remah-remah, sekarang jadi istimewa.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Dan yang paling mengganggu dari semua, mata saya basah lagi. Menulis terasa begitu sulit. Tapi, tak bisa ditawar: saya harus menulis sesuatu tentang kita. Dan untuk itu, mungkin ada yang bisa saya jadikan alat bantu.

Notifikasi FB menyebutkan nama Haswinar Arifin (Konar). Ia memasang sebuah foto yang memuat kita, Ri. Ketika saya tengok, ternyata itu foto yang dia ambil di bulan November 1982, di acara ketiga (atau kedua?) GM Selo di Pasar Seni Ancol. Acara ini digagas oleh Pepeng bersama Yando, Toha Mashyur, Donny Metri (alm) dan sejumlah teman-teman dari Antropologi UI saat itu.

Persiapan buat acara itu cuma beberapa hari sebelum manggung. Saya panik sekali karena lagunya baru semua (baru saya dengar/kenal, tepatnya) lalu kamu mengharuskan kita berdua hafal teks. Semua ada 3 lagu, dan di salah satunya saya memainkan suling. Selain itu masih ada tambahan masalah: kamu tak mau memperbanyak jadwal latihan. Jadi untuk lagu yang baru semua dan susah semua itu, kita hanya bertemu 2 kali. Tidur saya langsung tak nyenyak selama beberapa hari.

Pagi sebelum main, muncul diskusi soal kostum. Waduh, pakai apa ya? Celana jins saya cuma satu, lagi dicuci. Selly Riawanti bilang baiknya saya pakai celana montir dengan kemeja katun biru. Amalia Shadilly menyediakannya. Saya lantas pulang untuk kembali lagi jam 4 sore, sudah pakai kostum. Rombongan siap berangkat, naik VW Combi Amalia, mobilnya Belis, dan Toha.

Di mobil, saya bertanya padamu, “Ri, nggak pakai latihan lagi, nih?” berharap kamu jawab: Harus!
Ternyata kamu bilang, “Nggak usah.” Oh Dear…. Dengkul saya dingin. Tenggorokan kering. Nanti bisa nyanyi nggak ya? Inget semua lirik nggak ya?

Sampai di sana, maunya pura-pura tenang. Apa daya nggak berhasil, ketahuan Pepeng pula! “Kenapa lo? Deg-degan ya?” katanya sambil melotot lalu tertawa keras-keras. Idih, orang lagi grogi diketawain. Yando menenangkan, “Tenang…. Bisa lah. Ini kecil, kok,” katanya. Kecil? Orang besar-besar duduk di depan panggung, dengan mata melotot begitu dibilang kecil? Sementara kamu entah ke mana sih, Ri? Selama beberapa saat kamu nggak kelihatan di wilayah panggung.

Sudah tak ingat lagi kita muncul di urutan ke berapa, yang pasti giliran kita setelah group country, Lost Men. Kaki gemetar. Untung bangku kita ada tatakannya, di situ kaki bisa disangkutkan, biar berhenti bergetar.

Lagu pertama: Give Your Best To Your Friends (Bee Gees), lancar.
Lagu kedua: Luck of the Irish, saya nyaris tak bisa mendengar suara sendiri, terpaksa tutup kuping sebelah (perilaku yang ternyata terus saya lakukan setiap kali kita nyanyi bersama).
Lagu ketiga: saya hampiiiiiir tersedak ketika memainkan suling. Ini pertama kali nyanyi The Boxer.

Tiba-tiba semua selesai. Leganya bukan main. Saya lihat muka Pepeng, Yando, Donny, Ace, Toha, Amalia dan Ncesz tampak lega. Muka kamu biasa saja, cuma sekilas memunculkan jempol. Semoga itu berarti aman jaya. Lalu saya segera lari meninggalkan area panggung, mencari kamar kecil. Kebelet pipis.

Satu hal baru terjalani malam itu: nyanyi di depan orang banyak. Dapat honor pula. Senang!

Akankah ini terulang: Nyanyi sama kamu lagi?
Kalau ya, semoga lain kali kamu mau latihan lebih sering supaya saya nggak deg-degan banget.

Ternyata memang terulang lagi dan lagi dan lagi. Tapi latihan tak lebih dari dua kali. Bahkan kadang cuma sekali. Karena kamu merasa itu sudah cukup.
Sehingga saya terus saja deg-degan. Ampun, deh.

Leave a Reply