AriReda: Catatan #2

Sekitar dua minggu sebelum tanggal yang nggak asik itu, entah ada angin apa, tiba-tiba kamu bertanya apa saya sudah mulai latihan gitar dan progres album solo saya. (Ya, album solo. Kalian nggak salah baca.)

Ya, kita memang sepakat untuk masing-masing membuat album solo. Tujuannya jelas: supaya setelah itu, kamu dan saya akan membawa “warna” lain di album AriReda berikut. Kamu sudah mulai lebih dahulu. Saya, seperti biasa, ragu tiada habisnya. Baru di awal 2018, saya berani memulai.

Saya melapor, kalau gitar sudah lebih rajin dimainkan.
Kamu mengacungkan jempol, “Asyik lagi, Red main gitar,” begitu kamu bilang. Soal album, saya cerita kalau sudah mulai bikin syair dan juga lagu. Kamu acung jempol lagi, “Cepetan kelarin! Gue pengen denger.”
“Siap, Partner,” saya menjawab. Aduh, dengkul saya mendadak dingin. Seminggu kemudian saya absen, nggak nengok kamu karena kebetulan ada jadwal ketemuan terkait album itu.

Setelah itu, saya datang lagi.
Tapi entah kenapa ketika itu perasaan saya di seminggu itu nggak jelas mengarah ke mana. Bawaannya emosi aja. Semua serba salah, serba nggak asik. Dan berita kamu kena serangan jantung ringan bikin jantung saya melorot sampai jempol kaki. Udah kondisi kurang cakep, kok ya jantung kamu ikutan demo gitu, sik Ri?

Kemudian tiba hari Rabu.
Setelah bicara dengan tim dokter perihal penundaan jadwal operasi, nggak jadi keesokan harinya, saya kembali ke kamar. Menjelaskan kepadamu apa yang telah diputuskan. Kamu kelihatan kesal. Kecewa. Saya mati gaya, nggak tahu mau ngomong apa lagi.

Tiba-tiba Tiara Savitri mengusulkan agar saya main gitar dan menyanyikan satu dua lagu. Aduh, usul yang nggak asik banget nih. Berkali-kali datang menjenguk kamu, setengah mati saya menahan diri untuk nggak nangis. Kalau anak-anakmu mulai nyanyi, saya ingin lari saja. Nggak kuat. Ternyata saya cengeng banget! Payah. Karena itu, usul Tiara saya tolak. Nggak ah. Kalau sampai nangis, apalagi di depan kamu, Ri…. Asli, nggak asik. Nggak berwibawa banget! Saya yang gampang terbakar, karena sumbu pendek banget (menurut kamu, nih), kepergok nangis di samping kamu? Tidaaaak!

Eh, Tiara terus saja memaksa. Saya pun terus menolak.
Tiba-tiba, kamu mengangkat masker yang menutupi hidung, dan kamu bilang, Nyanyi! Dan entah bagaimana, tanpa banyak cingcong, saya ambil gitar. Begini nih…. sejak dahulu kala sampai hari ini, kalau kamu sudah beri instruksi, kok ya saya manut aja? Nggak bener, deh.
Dan dampak dari perintah kamu itu: Tiara jadi senang.
Tapi nyanyi apa? saya bergumam berkali-kali. Mendadak tak ada sebaris lagu pun melintas di kepala. Gitar kentrang-kentring nggak jelas. Ya, ini semacam upaya untuk nggak usah nyanyi, tepatnya.
Eh, kok kamu malah menggeram. Meski nggak terlalu jelas, saya tahu kamu menyuruh saya nyanyi lagi.

Dan tanpa sadar, meluncurlah lagu Here, There, and Everywhere.
Kenapa lagu itu? Nggak tahu. Lagu yang baru saya kenal lewat kamu itu saya nyanyikan dengan syair yang terbulak-balik di setiap pengkolannya. Begitu selesai, saya siap menyimpan gitar, tapi kamu memberi tanda untuk saya terus menyanyi.
Saya menggumamkan Both Sides Now, Circle Games, dengan lirik yang juga kacau balau. Begitu sampai tengah-tengah Puff the Magic Dragon, saya lihat kamu mengerutkan dahi. Saya panik. Dan lagu berhenti di tengah jalan.

Tapi Tiara bilang terus. Dia terus saja memaksa.
Saya serahkan gitar kepada Jerash. Dia memainkan intro Let It Be.
Saya menyanyi lagi, dan lagi, sampai akhirnya ditutup dengan The Boxer. Ini lagu yang pertama kali kita nyanyikan di Pasar Seni, 36 tahun lalu, Ri. Sinting, sudah selama itu ya kita nyanyi bareng?

Setelah selesai The Boxer, saya pamit pulang.
Harus keluar kamar, karena kelamaan sedikit saja, bakal nangis beneran. Terus nanti kamu malah ngetawain saya. Nggak boleeeeh!

Dalam perjalanan pulang bersama Tiara, kami bicara sedikit tentang kamu. Tiba-tiba ada rasa hangat membungkus hati: saya jadi nyanyi buat kamu, Ri. Meski agak khawatir kamu jengkel mendengar saya menyanyi dengan suara super pelan, salah chord, dan lirik tak karuan pula. Kamu tuh maunya semua serba sempurna. Apalagi urusan chord dan tarikan suara. Ya, kan?

Eh, tapi tadi kamu mengacungkan jempol!
Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, jempol yang teracung itu berarti aman. Kamu tak keberatan dengan semua kekurangan tadi. Senang hati ini. (Arif Zulkifli menuliskan peristiwa ini dengan indah, di kolom Obituari, TEMPO edisi 17-24 Juni 2018. Terima kasih, Rif.)

Ari, kita harus berterima kasih pada Tiara Savitri. Kalau bukan karena Tiara, saya nggak bakal sempat nyanyi buat kamu. Seandainya itu terjadi, bisa-bisa saya menyesal hingga entah kapan.

Sementara itu, berilah toyoran semangat kepada partnermu ini, Ri. Biar proses bikin album solo saya yang kamu kejar-kejar itu berjalan lancar. Saya mau kamu bangga dengan proyek ini. Biar nggak sia-sia pelajaran musik yang kamu tanamkan selama 36 tahun kita barengan.

Mau ya, Partner?

13 Comments

  1. Intan Nadya

    Mewek tengah malam! Mba Reda yang kuat ya! Kami semua menyayangi mas Ari, pun dengan Tuhan.

  2. yully purwanti

    Yang kukenang hanya segala yang berbalut keindahan saja Mbak. Al Fatihah untuk Mas Ari. Mbak Reda, stay strong… melanjutkan karya dalam hidup. Tuhan selalu dekat Mbak. ❤

  3. Mozes Touw

    Blessed ! Keep Fighting Mba Reda, Mau God Bless you 🙂 Mas Adi Sudah Sembuh dan Bahagia di Sana 🌹

  4. Mba Reda…..

    terharu banget baca ini… Mas Ari pasti bahagia ya saat itu mendengar Mba Reda nyanyi… dan dibuka dengan lagu Here, There and Everywhere juga… aaaah, itu salah satu lagu yang paling indah yg pernah tercipta ya Mba. Aku juga kalo main gitar sambil “gerendengan” nyanyi lagu itu pasti jadi kebawa sendiri deeeh…

    dan aku tadi beneran kaget pas baca Album Solo! Yeaaass!!! Ayo, Mba! Aku bagai Willa yang menghentak kaki nih sekarang karena ga sabar, ahahahaha…

    Semangat terus ya Mba!

    • rgaudiamo

      Joe!
      Terima kasih ya.
      doakan agar perjalanan berikut ini lancar jaya, ya.
      Aku deg-degan banget nih.

      Dengkul dingin.
      Doakan, doakan, doakaaaaaaaaan!

      makasih yaaaaaaak
      r

  5. milly soeseno ( betmen )

    Mas Ari Malibu sudah bahagia tinggal di rumahnya yang baru dan pasti dia tengah memetik gitarnya dan melantunkan lagu HUJAN BULAN JUNI…..hujan selalu datang tiba2 seperti rasa rindu yang juga selalu datang dengan tiba2. Tetap semangat ya Ibu Reda….kamu pasti bisa !!

  6. Bara Filosanda

    Kadang-kadang aku rindu mendengar alunan ari reda. Telaga di mana petikan gitar tulus dibunyikan. Dan aku bingung dan kehilangan ketika ari reda tanpa ari. Terima kasih sudah buat aku suka ari reda.

Leave a Reply