#nowiknow: BELAJAR MENGISI KOPER

Emmina face cleanser, lipgloss, lipstick, primer by MakeOver, face powder by Wardah

Tour. Tur. Turne.
Turu kono, turu kene.
Mengajari saya banyak hal.

Satu yang terpenting: mengisi koper.
Saat masih ngantor dan perjalanan dinas, rasanya susah banget menentukan apa yang musti dibawa dan mana yang harus ditinggal dengan hati rela. Pernah ada masanya, mengisi koper buat pergi selama 2 minggu membuat saya tidak tidur sampai pagi. Terlalu banyak pertimbangan, sampai pusing sendiri. Dan begitu sampai tujuan, tersadar bahwa yang dibawa sangat berlebih. Yang penting malah terlupa. Repot!

Saya mencari tahu di berbagai artikel terkait jalan-jalan, dan belajar menerapkannya.

Apa yang dibawa?
Buat perjalanan dinas, ada blazer warna gelap, sepatu ekstra dengan hak agak tinggi, shirt dress, blus dan rok, dan jeans. Rata-rata berwarna gelap dan semua polos. Biar gampang dipadu-padan dengan si blazer tadi. Sementara untuk acara makan malam resmi saya pilih berkain saja. Pilihan saya, sarung tradisional dari kampung Mak dan sekitarnya. Ringkas. Rapi.

Begitu jalan-jalan urusan nyanyi-nyanyi menggencar (sejak akhir tahun 2015), isi koper pun berubah. Aksesoris mendadak punya peran penting. Scarf termasuk di antaranya. Mereka bertugas jadi pembeda kalau ada atasan yang saya pakai di beberapa kota. Sepatu? Cukup sepasang saja yang saya pakai sejak berangkat, cek sound, naik panggung, sampai pulang  ke rumah. Bahkan baju yang saya bawa, semua bertolak dari pilihan sepatu.

Emmina face cleanser, lipgloss, lipstick, primer by MakeOver, face powder by Wardah

Di koper ini juga meringkuk sebuah kantong berisi perlengkapan penting lain yang terdiri dari deodorant, lotion pembersih, krim pelembab, primer, bedak, lipstick, dan eyeshadow stick yang gampang dipakai. Tanpa mascara, karena untuk mengolesnya, musti lepas kacamata. Sementara supaya rapi jali dan nggak belepotan, saya musti pasang kacamata. Jadi lupakan saja.

Dulu, selain koper kecil, saya bawa tas cadangan yang tampangnya agak resmi, dijinjing saat meeting biar berasa kayak orang ngantor. Sekarang, tas yang saya bawa ke pesawat nasibnya sama dengan sepatu: berangkat-uji bunyi-manggung-pulang: ikut terus. Isinya? laptop tipis berlogo apel somplak (bisa ditinggal di kamar kalau pas manggung), handphone, earphone, dompet, tiket, dan permen atau buah yang bisa dikunyah tanpa kupas-mengupas, atau coklat. Oya, lipstik. Maunya bawaan tetap ringan bahu, tapi semua ini (ditambah 1 power bank) berhasil bikin pegal. Sebetulnya laptop berlogo apel somplak itu selalu ingin saya tinggal di rumah. Apa daya, setiap kali tidak dibawa saya malah perlu banget. Alhasil, daripada repot di tempat tujuan, meski agak berat, dibawa sajalah.

Sudah?
Teorinya begitu.
Tapi, kadang-kadang (eh tepatnya selalu) saya khawatir akan terjadi hal-hal yang kurang mulus di tempat tujuan. Misalnya masuk angin, sakit perut, terluka, kedinginan, kepanasan, batuk-batuk…. Nah, semua kekhawatiran itu pun saya tutup dengan membawa perlengkapan yang (diharapkan) bisa mengatasinya dengan baik. Ada sachet Tolak Angin untuk masuk angin, ada obat lambung, tapi sekarang berganti dengan Digize ditemani Thieves dari Young Living Oil, ada Vaseline wax, ada kencur (hehehehe….). Barang-barang ini sih semua serba kecil mungil, tapi tetap butuh tempat kan? Jadi bawaan pun membengkak. Belum lagi kalau menunggu agak lama di bandara…. Saya jadi mampir ke Periplus. Cari majalah atau buku. Berangkat beli, pulang beli. Keisengan banget.

Oya, satu lagi, meski sudah bawa laptop, saya tetap bawa buku buku catatan (tidak bergaris, karena saya lebih suka coret-coret dan menggambar), alat tulis yang enak dan lancar dan banyak tintanya, Buku itu juga biasanya akan dirobek selembar atau dua untuk catatan set list (yang selalu dilanggar juga). Plus bolpen dan spidol permanen untuk tanda-tangan CD, kertas kosong dan alat tulis untuk mencatat set list dan topik, eh hal-hal yang bisa disampaikan saat Ari menyetem gitar, atau sound belum pas betul.

Sudah?
Eh, belum!
Belakangan saya juga bawa sikat gigi, odol, shampoo, dan sabun mandi. Soalnya kami tak selalu menginap di hotel. Belakangan, saya merasa perlu bawa handuk (ukuran super mini), karena warna dan bentuk handuk di sebuah hotel sungguh memprihatinkan. Dan ada anggota baru yang ikut mengisi koper: setrika mini khusus untuk jalan-jalan. Ini gara-gara hotel tempat kami menginap di ujung rangkaian tur. Di kota lain, kami hanya menginap semalam, paginya pergi lagi. Nggak sempat cuci baju. Nah, di kota ini, kami tinggal agak lama. Jadi kesempatan cuci dan setrika baju. Apalagi di sini kami akan nyanyi di resepsi kawinan (baju khusus sudah disiapkan!).

Dengan semangat saya menghubungi bagian pencucian baju. Eh, ternyata mereka hanya menerima cucian dalam hitungan kilo, minimal 10 kilo. Okeh, bagaimana dengan setrika? Nggak ada! Waduh, gawat. Nggak mungkin saya nyanyi di kawinan Abdur dan Sindya dengan baju kusut, dong! Walhasil saya keliling cari setrikaan kecil. Keliling kota naik beca, berhenti di setiap toko elektronik: seterika kecil yang bisa dilipat tak bisa ditemukan. Baeklah, taka da jalan lain: beli setrika ukuran standar (besar, tepatnya!), Di toko terakhir ini, harganya murah banget, Rp50 ribu. Warnanya? Ungu. Begitu sampai hotel, langsung saya gosok baju dan kain. Fiuh! Begitu sampai Jakarta, saya ngubek Glodok Elektronik, beli setrika mungil, bisa dilipat. Sampai sekarang saya bawa ke mana saja. Si Ungu? Terpakai buat seterika baju di rumah. Ternyata lumayan juga dia.

Tour. Tur.
Turu kono, turu kene.
Setiap perjalanan membawa pelajaran baru.
Begitu pula dengan perjalanan mendatang yang akan terjadi sepuluh hari dari sekarang. Tanggal 25 Agustus ini saya akan berangkat ke Inggris, dan tinggal di sana selama 2 bulan penuh. Saya berada di sana untuk program residensi penulis. Saya beruntung dapat travel grant dari Depdikbud dan Komite Buku Indonesia. Di sana saya akan bergeser dari London ke Birmingham ke Oxford, dan mungkin melebar ke Edinburg, Bath…. Entah ke mana lagi. Pokoknya ke tempat-tempat yang membuat otak saya bisa bekerja lebih baik, dan tangan menulis lebih lancar.

Jujur, saya deg-degan menunggu hari itu tiba.
Terutama untuk urusan bawaan: apa yang musti masuk koper? Apa yang harus ditinggal? Semua tergantung cuaca, bukan? Kalau adem melebihi kulkas, berarti bawa baju hangat, kan? Atau malah sudah harus menjinjing mantel bulu (aih!)?
Itu baru bawaan. Kopernya gimana?
Harus segede atau bisa sekecil apa?
Aduh, saya mendadak mules, nih.
Tampaknya, saya belum lulus dalam urusan mengisi koper.

Ada yang mau bantuin?
Ayo dong.
Plis.

Leave a Reply