Catatan #H-7

Untung bawaan cuma segini.

Kenapa sih setiap kali perjalanan penting berlangsung, selaluuu ada saja hal “seru” yang menimpa saya?

Misalnya tiga tahun lalu, saat menuju Frankfurt Book Fair. Bawaan kami –saya dan Ari—kelebihan 10 kg, dan bawaan tak lebih dari 2 koper. Lha, yang berangkat dua orang, masak bawaan cuma 1? Entah bagaimana bisa begitu. Eh, sebetulnya saya tahu kok kenapa begitu: saya tidak teliti membaca tulisan super cuiliiik di tiket. Ari nggak baca? Dia mah pasrah-jaya orangnya. Solusinya apa? Terjadilah pembuangan berlembar-lembar kertas, sepotong kain dan sepasang sepatu di bandara (dengan emosi tinggi tentu). Setelahnya baru kami boleh naik pesawat. Hari itu –untuk pertama kalinya- Ari ngomong serius dan panjang. Intinya, saya musti belajar tahan emosi. Belajar sabar. Gimana lah caranya, level emosi musti turun.

Untung bawaan cuma segini.

Nah, hari ini sesuatu yang heboh terjadi lagi.
Saya yang paling malas lari ini mendadak jadi atlet lari jarak lumayan.

Pesawat saya terlambat tiba di tujuan, lalu di bandara Hong Kong terjadi kemacetan total, karena ada rombongan truk berjajar di dekat belalai. Kok bisa? Aduh, jangan ditanya kenapa lah. Saya mules maksimal, kesal, deg-degan takut ketinggalan pesawat menuju London.

Jeda waktu dari pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta dan yang akan menuju London –dalam kondisi normal- ternyata hanya 50 menit. Dipotong keterlambatan karena muter-muter di udara selama 10 menit, plus kena macet karena jajaran truk di bandara selama 10 menit, pemasangan belalai yang –kok ya bisa-bisanya—makan waktu 5 menit…. Waktu yang saya punya tinggal 25 menit!

Wajah pramugari senior di pesawat cemas sangat. Dia bilang sudah mengabari ground staff untuk mengatasi masalah ini. Pintu pesawat terbuka, saya lari dan di ujung sana menunggu seorang pria berwajah Eurasia (wajahnya mengingatkan pada JJ Nonis). Dengan tenang menanyakan apakah saya siap berlari. Apa ada pilihan lain, Mas? Nggak kan? Ya, yuk mari lari. Kok nggak naik kereta/gerobak? Nggak kelihatan! Saya berlari. Di travelator, saya mendorong ibu-ibu bersasak yang berdiri berjajar sambil tertawa-tawa. Bawaan mereka terguling. Maaf yak. Melewati pemeriksaan paspor, periksa bawaan (untung cuma bawa 1 koper yang muat di kompartemen kabin pesawat), saya lari lagi sampai akhirnya tiba di gerbang tempat pesawat saya parkir. Ketika saya menoleh, pria yang menolong saya tadi sudah berlalu. Sir, thank you!

Di pesawat, napas saya masih tidak karuan. Kaki saya terasa seperti ongol-ongol. Goyor-goyor nggak jelas. Lima menit kemudian, pesawat bergerak. Whoa, that was close!

Hari ini, saya resmi jadi atlet. Sejalan dengan semangat Asian Games, Energy of Asia: saya telah memenangkan lomba lari tercepat yang pernah saya jalani. Hadiahnya: segelas minuman berwarna keemasan di gelas tinggi dan langsing.

Fiuh!
Eh, sebentar….
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Kayaknya sih penyebabnya cuma satu: Penyakit lama saya yang selalu nggak teliti saat pesan tiket, nggak ngitung jarak dan perbedaan waktu, kemungkinan terlambat, dan kembangannya….

Gitu dah.
Sekarang saya menuju kota berikut. Semoga lancar jaya. Mohon doanya agar tak ada lagi kehebohan yang tak perlu.

#nyaris

Leave a Reply