Catatan #H-6

Konstanz

Saat ini saya berada di Jerman, menemui Grace dan suaminya, Herman. Kunjungan ini memang saya atur betul sebelum masuk masa residensi, kebetulan mereka sedang libur musim panas. Kalau nggak gini, susah ketemuannya.

Pertama kali mampir, jaman saya masih jadi pegawai, memanfaatkan waktu jeda antara training dan acara kantor selama 3 hari. Datang di periode musim dingin, membuat saya bisa kenalan dengan salju: tiduran di serutan es serut kiriman dari langit pun tercapai.

Kali kedua, jaman FBF 2015, bersama Ari.
Sebetulnya saya mau kami ke Paris. Tapi dia malah ngotot pengen ke Konstanz, tempat tinggal Grace dan suaminya. Adalah Syarita yang menyetir mobil dari Frankfurt sampai Konstanz. Lumayan jauh. Eh, malah jauh banget sih tepatnya. Waktu kami tak banyak, tapi lumayanlah buat melihat sepojok kecil kota yang tenang ini.

Nah, tanggal 25 Agustus kemarin saya mendarat di Zurich, disambut ramah oleh petugas imigrasi. Di luar, Grace dan Herman sudah menunggu. Kami menuju Konstanz naik mobil. Suhu di Konstanz cukup hangat, antara 15 – 22 derajat. Pas buat jalan-jalan, mengikuti rancangan perjalanan yang sudah diatur oleh Grace dan Herman.

Hari pertama, jalan kaki ke danau, cuma 3 menit dari rumah mereka. Danau ini –Bodensee– milik 3 negara: Jerman, Swiss, dan Austria. Dalam perjalanan yang cuma seuprit itu, saya sampai di batas negara Jerman dan Swiss. Kaki kanan bisa di Jerman, kaki kiri di Swiss. Perbatasan ini –mungkin—satu-satunya yang punya garis batas negara di tanah. Penanda lain: batu yang ke dua sisinya bertuliskan D (Deutsch-Jerman) dan S (Switzerland-Swiss), prasasti, dan papan penanda batas dua negara di dua kota: Konstanz dan Kreuzlingen. Tapi walikota kedua kota ke dua negara yang berbatasan ini sepakat membuat sesuatu yang lebih seru dari sekadar garis putih di di aspal. Maka berdirilah 22 instalasi seni dari baja yang berjajar di sepanjang batas. Ada yang sampai masuk ke danau. Eh, keren banget. Oya senimannya Johannes Dörflinger, seniman kelahiran Konstanz.

Hari masih terlalu pagi untuk pulang. Kami naik kapal kecil keliling Danau Bodensee selama sejam (promo berkata demikian). Kapten kapalnya, Herr Detlev, mengerjakan semuanya sendiri. Dari memanggil penumpang, memasang jembatan, menjalankan kapal, sampai jadi pemandu wisata. Ketika penumpangnya banyak bertanya, dengan gembira dia menjawab. Saking gembiranya, kapal melaju sampai ke sungai Rheine. Janji berlayar  1 jam, molor jadi 2 jam. Baik banget Pak Detlev.

Turun dari kapal, perut lapar.
Kami masuk restoran di tepi danau, masing-masing pesan 1 pizza. Ternyata pizza-nya segede tampah! Tengah jalan, kecepatan makan berkurang karena perut mulai penuh. Terpaksa istirahat dulu, ngobrol, ketawa-ketawa…

Dari obrolan ini saya tahu kalau pizza pertama kali masuk Jerman lewat Konstanz ketika berlangsung pertemuan penting –konsiliasi menentukan Paus yang sah– tahun 1414 -1418. Kardinal dari Italia membawa rombongan tukang masak. Selain resep dan bahan makanan, rombongan koki Italia j membawa tungkunya sekalian. Makanan baru ini kemudian tersebar keluar gedung konklaf, dan jadi jajanan paling hits saat itu.

Habis makan, kami jalan-jalan menyusuri danau mengarah pulang sambil menurunkan beban di perut. Kami masuk keluar jalan-jalan kecil, melewati toko-toko dan barisan gedung tua, rumah-rumah berjendela warna-warni, balkon dipenuhi bunga-bunga… membuat saya mengerti mengapa Grace dan Herman suka Konstanz, dan memutuskan menetap di sini. Kota ini cantik.

Tapi selain cantik dari rupa, kota ini menjaga keberadaan artisan di kotanya. Di tengah kota, berdiri sebuah tiang yang dihiasi emblem-emblem berbagai profesi di kota ini. Sampai sekarang, semua profesi itu masih ada, beroperasi dengan lancar, ada pelanggannya.

Apa misalnya?
Tukang roti, tukang jok, tukang es krim, tukang kayu, tukang jahit, tukang cetak buku, bahkan tukang jilid pun ada. Semua dibuat dengan cara manual. Mesin digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti cara pembuatan. Kita bisa mampir ke galeri, toko, bengkel para artisan yang mengerjakan keahlian masing-masing yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Jelas ini tidak mudah, tapi mereka tetap setia dengan profesi itu, dan pemerintah kota ikut memberi perhatian dengan sangat. Dilestarikan secara utuh. Keren ya?

Mungkin kalau di Jakarta, toko roti Tan Ek Tjoan berada dalam kategori ini. Dilestarikan. Bertahan di tengah kota, membuat roti di sebuah rumah besar di Cikini dengan cara yang mereka kenal dan dikenal pembelinya, dari masa ke masa.

Mungkin, lho.

Keterangan Foto: 1. Perajin Kayu; 2. Emblem Profesi; 3. Daftar Profesi; 4. Perajin Jilid Buku; 5. Pizza segede tampah; 6. Batas negara; 7. Instalasi di Bodensee; 8. Pak Detlev

 

Leave a Reply