CATATAN #H-5

Dari perpustakaan sampai pabrik coklat.

Di akhir 2017, di hari-hari terakhir bekerja di kantor, saya membayangkan bangun pagi bakal jadi masa lalu. Kekhawatiran untuk terlambat, tergesa-gesa berlari ke kamar mandi, menggosok baju (kenapa nggak dari malam aja sih main seterikanya?), dan panik menemukan handphone akan hilang dengan sendirinya.

Eh, kata siapa?
Ini sudah masuk bulan Agustus, di tanggal-tanggal terakhir pula: kekhawatiran itu masih saja datang. Setiap pagi. Bahkan ketika saya sedang berada di negeri orang, di rumah adik saya dan suaminya di tepi danau Boden di Konstanz.

Pukul 05.00 (paling telat), mata sudah terbuka lebar. Jantung berdebar: astaga, belum gosok baju! Ada rapat apa hari ini, ya? Hujan? Ah, berarti jalan menuju halte Velodrome bakal kurang nyaman, karena becek dan trotoar yang baru itu licinnya bukan main ketika basah. Ketika deg-degan meningkat, kepala menoleh ke kanan, dan tampaklah jendela bertirai tipis, menghadap jalan sepi, langsung tersadar: Hehehehe, udah nggak kerja lagi! Santai, santaaaaiiiii! Tariklah selimut, tidurlah lagi.

Nah, ketika bangun lagi, biasanya saya baru buka mata 2 atau 3 jam kemudian. Grace, adik saya, sudah sibuk di dapur. Masak, bikin sarapan. Dia jagoan banget bikin aneka rupa makanan. Rasanya semua resep andalan Mak sudah bisa ia wujudkan. Canggih pun!

Seperti pagi ini, kami sarapan roti goreng isi ragout. Wah, tampang dan rasanya mengingatkan pada rumah di Rawamangun, saat Mak lagi senang-senangnya masak. Sambil sarapan, Herman –suaminya Grace- langsung memaparkan rencana jalan-jalan. Hari ini kami ke St. Gallen di Swiss, naik mobil. Herman sangat suka menyetir. Terus semua serba disiapkan dengan teliti. Seperti tempat parkir yang sudah didapat sejak kami masih berjarak 50 menit dari lokasi, di bawah sebuah mal. ‘kan maen deh.

Keluar dari tempat parkir, kami disambut satu pojok merah.
Tanah, aspal, tempat nongkrong, hiasan, semua merah.
Ditimpa matahari pagi, tempat ini tampak “menyala”.
Adalah Pak Walikota yang memutuskan menerima ide seniman kota untuk mewarnai sebagian kecil wilayah pemerintahannya dengan warna merah. Di ujung jalan, ada peta menunjukkan luas lokasi wilayah ini. Saya kan orangnya suka norak ya, jadilah bikin foto di banyak pojok. Apalagi Herman menawari memotret pakai kameranya yang canggih itu. Kalau nggak diingatkan ada wilayah lain, mungkin saya akan foto-foto terus di sana, pose tiduran, tengkurep, apa aja, deh.

Merah di satu pojok. Kok bisa ya? Kok boleh, sih?
Jawabnya sih gampang: kenapa tidak? Kalau memang ide itu membuat kota tampil beda, tampak lebih berseri sehingga lebih banyak dikunjungi orang: kenapa tidak.

Saya kagum pada keberanian dan keterbukaan pak walikota untuk menerima ide berani ini. Oya, selain serba merah, di atas kepala ada hiasan mirip batu berukuran besar, mengambang (diikat pakai tali, sih). Kalau malam, batu-batu itu menyala. Keren banget, pasti. Saya tak sempat lihat, karena Bapak dan Ibu Pemandu Wisata sudah siap membawa saya ke tempat lain, di St. Gallen juga: Perpustakaan!

Ini perpustakaan yang umurnya sudah ratusan tahun.
Saking tuanya, untuk masuk ke ruang perpustakaan, kita harus pakai sepatu khusus, macam selop buat tidur terbuat dari bahan flannel yang agak tebal. Kaki bersama sepatu masuk di situ, baru boleh melewati pintu perpustakaan.

Sampai di dalam (ada biaya masuknya), saya sepakat kalau kami harus pakai pelapis sepatu. Dengan pelapis itu, tekanan kaki pada hak dan alas sepatu bisa diminimalkan, sehingga lantai berhias yang terbuat dari kayu pinus itu bisa tetap bertahan.

Itu baru soal lantai.
Rak-raknya disusun dengan sangat sistematis, memuat lebih dari 150,000 karya, dan sejak berdirinya di abad 8, perpustakaan ini menjadi tempat belajar penting dari masa ke masa. Hiasan di perpustakaan ini, bukan main banget. Selain gambar-gambar dari sang pendiri gereja, St. Othmar, peristiwa dalam kitab suci, di tiang-tiang muncul hiasan berupa malaikat-malaikat kecil yang menggambarkan tokoh penting dalam pembangunan perpustakaan ini: ahli bangunan, ahli jilid buku, ahli gambar, ahli taman/kebun, ahli patung, ahli kayu…. Semua ada.

Rasanya nggak puas-puas berada di ruang itu.
Oya, bukunya boleh dipinjam, tapi harus pakai ijin khusus. Saya sih nggak berani nyenggol koleksinya, apalagi pinjam, wong saya ini sembrono dan super clumsy! Bisa jatuh, sobek, bercopotan buku-buku super berharga itu.

Kami terpaksa keluar dari perpustakaan karena ada rombongan dari sebuah tempat di wilayah Asia yang super berisik dan semua serba mau dipegang. Semua mau difoto. Semua mau selfie. Stress, deh.

Tidak jauh-jauh, kami bergeser ke katedralnya yang cakep banget. Dibangun dengan gaya baroque, dengan sentuhan warna aqua di banyak bagian katedral. Perihal warna aqua ini ada 2 hal terkait pemakaiannya. Yang pertama, menyangkut konsep, warna aqua dipercaya paling mampu menggambarkan keindahan surga. Berbeda dengan gereja lain yang masih menggambarkan suasana duniawi, maka warna dominan gelap dan sentuhan emas di mana-mana.

Yang kedua, konsep surgawi yang diwakili oleh merajanya warna aqua, membuat biaya pembangunan bisa dipepet dan dihemat sedahsyat mungkin.
Nah, pertanyaannya: mana yang muncul duluan? Konsep surgawi atau penghematan biaya. Saya dan Grace sepakat bahwa yang muncul duluan adalah soal penghematan, lalu dicarilah alasan untuk meloloskannya ke pihak berwenang. Kepandaian presentasi. Itu menurut kami, lho.
Keluar dari katedral sudah jam 3 siang.
Restoran di kota itu, tutup semua. Mereka istirahat (mungkin tidur siang) setelah jam makan siang selesai, sekitar 14.00. Yang buka cuma satu counter hotdog. Harganya? Sepotong hotdog dengan roti super keras dan bikin rahang mengunyah mati-matian, bisa buat traktir 10 orang di McDonald Jakarta.
Saking kerasnya, akhirnya kami berbagi dengan merpati-merpati rakus yang bergerombol di sekitar tempat duduk kami. Silakan, lho….

Dari perpustakaan sampai pabrik coklat.

Hari itu ditutup dengan main ke pabrik coklat Maestrani. Namanya Maestrani Chocolarium di St. Gallen juga. Di sini, saya mengerti seperti apa rasanya jadi Charlie di pabrik coklatnya Willy Wonka. Proses bikin coklat dijelaskan dengan ringan dan menarik. Yang pasti jadi pengen makan coklat. Boleh lihat proses bikin coklat, boleh AMBIL COKLAT SESUKA HATI! Dimakan sekalian. Bikin kreasi sendiri juga boleh (tapi pake bayar).

Aquilino Maestrani (1814-1880) percaya bahwa mereka yang menemukan keindahan dan kebahagiaan dalam hidup adalah mereka yang suka coklat. Sepakat.

Keluar dari sana, tas saya penuh coklat dalam berbagai bentuk dan ukuran. Gembira banget.

Begitu cerita hari ini.
Besok jalan-jalan lagi.

Foto: Peter Herman @kucingherman (kecuali foto perpustakaan)

2 Comments

  1. Mbak Reda, ceritanya seru banget. Senang bacanya. Jadi inget pernah ketemu juga rombongan dari wilayah Asia yang super berisik itu. Ha ha ha mrk ada di mana mana ya. Kepala aku pernah kepentok tongsis mrk saking hebohnya mau motret. Selamat bersenang-senang Mbak. Ditunggu terus cerita perjalanannya.

    • Hi Muti!
      Terima kasih ya udah mampir ke sini.
      Memang turis Asia itu unik. Kalau Asia-nya dari Jepang, mereka sangat tenang. Bahkan cenderung nggak ada suaranya.
      Tapi kalau yang satunya…. Gitu deh. Hahaha

Leave a Reply