Sampai LONDON!

Satu perjalanan baru dimulai.

Tanggal 2 September, saya tiba di Heathrow.
Ampun, penuhnya bandara ini! Mau naik lift keluar dari bandara saja antrinya bukan main. Tombol naik dan turun sama lamanya. Karena pegel menunggu, saya masuk saja ke lift yang naik, setelah itu ikut turun. Yaaa, kayak di Jakarta aja lah, hahaha. Dan berhasil. Ketika lift turun, di lantai yang saya naik tadi pintu tak terbuka. Penuh!

Di luar, antrian bis panjang.
Kereta? Saya belum paham.
Akhirnya pilih taksi.

Ternyata tempat tinggal saya jauh (pakai banget) dari Heathrow. Sehingga ongkos taksi lumayan bikin mules. Tiap 10 detik saya melirik ke argo. Buseeeeet, ongkosnya bisa dipakai buat naik pesawat dari Jakarta ke Jogja! Oke, cukup sekali ini naik taksi bundar kentang ini. Lain kali ke bandara naik kereta saja. Ke mana-mana naik kereta aja. Kalau perlu jalan kakiiiii! Janji.

Oh, satu lagi: supir taksi saya kayaknya lulusan jalanan Jakarta deh. Lampu lalu lintas warna kuning dan merah diterabas berkali-kali. Potong jalur dari kiri ke kanan dan sebaliknya santai aja. Untung sampai di tempat menginap dengan selamat.

Saya tinggal –mungkin sampai minggu depan—di Wisma Merdeka, di daerah Barat Daya (North West = barat daya, kan?). Tempat ini dikelola oleh Cherry dan Wati ditemani Cheryl. Oya, Cherry itu pria, suaminya Mbak Wati, kandidat doktor yang akan sidang tanggal 20 ini. Cheryl itu putri mereka, sekolah di dekat situ. Sudah hampir 4 tahun Mas Cherry belajar sambil mengelola Wisma Merdeka yang khusus disediakan untuk para peneliti, mahasiswa Indonesia yang belajar di London.

Malam itu, saya kelelahan. Masuk kamar.
Tidur lelap tanpa mandi setelah makan roti dan nutella dan telur rebus yang tersedia di meja. Pagi harinya, saya baru sempat melihat dengan baik dan jelas tempat menginap saya dan sekitarnya.

Wisma ini berada di daerah Willesden, di jalan yang sepi, bertetangga dengan rumah-rumah yang cantik. Oh, wisma ini pun cantik! Bangunan klasik dua tingkat, berlantai kayu. Dan kamar saya menghadap ke halaman belakang yang ditumbuhi rumput, menemani pohon pear dan apel! Kalau kita duduk manis di rumah, tidak berisik, tupai bisa mampir ke halaman belakang, menggerogoti apel yang berjatuhan di rumput.

Paginya, turun dari kamar (semua kamar tidur ada di lantai atas), sarapan menanti. Di meja makan saya bertemu dengan tamu wisma yang lain. Ada dua bujangan, ada satu keluarga: ayah-ibu, dua anak dan nenek tercinta. Mereka –kecuali anak-anak dan nenek– kandidat doktor semua! Bahkan pasangan Surya dan Dian, selain menyusun tugas akhir doktoral, mereka juga mengajar. Keren.

Dalam percakapan perkenalan, keberadaan saya di London ini mengherankan mereka semua. Ini program apa? Dapat dari mana? Pulangnya kerja apa? Tugasnya apa? Maka berceritalah saya tentang Komite Buku Nasional, Frankfurt Book Fair, Program Residensi, London Market Focus tahun depan. Daaaaaan, tentu saja Na Willa yang akan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh The Emma Press. Na Willa yang mengantar saya sampai London. Na Willa yang membuat semua hal indah dan seru ini berlangsung.

Besok, saya cerita lengkap tentang Na Willa, khususnya bagaimana buku ini bisa mengantar saya ke London, dan tinggal di sini selama dua bulan (dibiayai pun).

Begitu dulu.

 

 

3 Comments

  1. Sukses perjalanannya, sukses menulisnya dan sukses bertrman banyak. Sehat selalu ya Mbak…jangan jemu berbagi cerita & pengalaman

  2. Yully Purwanti

    Semoga Mbak Reda diberi kesehatan, dan segala urusannya dimudahkan dan dilancarkan oleh Sang Maha Segala ya Mbak. Aamiin

Leave a Reply