Na Willa ke Inggris

Na Willa :)

Sesuai janji, saya ceritakan bagaimana saya bisa sampai London.

Beberapa waktu lalu, akhir April 2018, Komite Buku Nasional menayangkan pengumuman di akun IG, FB, dan kemudian website mereka, yang memuat nama peserta program residensi tahun 2018. Ada 28 orang, dan salah satunya saya ini.

Bagaimana bisa masuk ke daftar itu?
Ada masa pendaftarannya yang berlangsung di pertengahan bulan Maret. Para penulis mengisi formulir residensi, memilih tujuan residensinya. Mau dalam negeri atau luar negeri. Soal pilihan ini betul-betul terserah. Nggak ada aturan harus ke mana. Ikut kata hati saja, dan yang paling penting menurut saya, cocok dengan apa yang akan dikerjakan.

Eh, apa itu program residensi?
Ini pertanyaan yang ditanyakan banyak teman. Jadiiii, ini adalah program yang memberi kesempatan kepada penerima program untuk menyelesaikan/menggarap proyek/memasak ide di satu tempat yang dia pikir akan membuat semuanya berjalan lancar dan asik. Gitu omongan gampangnya. Omongan resminya: program ini bertujuan memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan karyanya di tempat yang kondusif menghasilkan karya yang layak untuk diterbitkan.

Ini tahun ketiga Komite Buku Nasional menggelar program ini. Saya baru ngeh ketika pengumuman program ini sudah tutup. Tapi kalau pun mendaftar, saya tak yakin lolos. Dan kalau pun bisa tembus, apakah mungkin saya meninggalkan kantor selama sekian bulan dan nggak nyanyi? Tahun lalu kegiatan nyanyi lumayan padat dan cuti sudah habis.

Lalu datang tahun 2018. Adalah Teddy dan Maesy dari Post Santa yang mengingatkan saya untuk mendaftar di tahun ini. Mereka bahkan mengirimkan link, lengkap dengan tanggal batas waktu pengiriman. Saya ingat betul, ketika mengirimkan formulir saya sedang rekaman di Jogja bersama Ari, album terakhir kami. Meski sudah terbayang akan mengerjakan apa di masa residensi, tetap saja saya bingung menyusun proposalnya. Bahkan menentukan kota di mana akan menjalani residensi pun saya bingung. Bolak balik saya timbang-timbang: New York atau London.

Mengapa New York?
Saya suka kota ini. Begitu hidup dan seru. Tapi apakah ini yang saya perlukan untuk menggarap proyek buku yang baru?

Mengapa London?
Pertama kali tiba di London, 12 tahun lalu, ketika mengurus lisensi majalah golf paling cool saat itu: Golf Punk. Saya tinggal 4 hari saja di sana, dan tidak bisa pergi jauh-jauh dari London, tetapi itu cukup membuat saya berniat mengunjunginya lagi.

Dan akhirnya pilihan jatuh ke London. Teddy dan Maesy mendukung penuh. Lega.

Saya –sejujurnya—gugup ketika mengisi formulir.
Agak-agak cemas dan tak berani berharap banyak.

Tapi sudahlah. Formulir terkirim. Berikutnya: menunggu.
Saya sangat ingin dapat, tapi juga mencoba tahu diri untuk tidak terlalu ngotot.
Ternyata di tengah proses menunggu itu datang WA dari Mas Nung, Borobudur Agency yang saat itu sedang mengikuti London Book Fair. Ia mengabari Na Willa ditaksir penerbit dari Inggris. Oya? Oya? Oya? Inggris? Kok bisa pas gitu antara negeri tujuan residensi dan penerbit yang naksir Na Willa! Duh, kalau sampai dapat, ini bakal seru: saya akan menyaksikan dari dekat tahap baru yang akan dijalani oleh Na Willa. Deg-degan. Hari itu baru 16 April, pengumuman dapat tidaknya program residensi belum muncul.

Lalu, di satu siang, di Jogja, 20 April tahun ini, ketika sedang bengong menunggu sesi cek sound bersama Jubing, datang pesan dari Dewi Noviami. Ia sampaikan bahwa proposal ke London sudah disepakati. Kapan? Sesuai proposal. Berapa lama? Dua bulan. Horeeeee!

Dan Na Willa yang membuat saya meraih kesempatan ini. Dimulai dari pertemuan dengan Maesy dan Teddy, di toko buku mereka, Post Santa, yang langsung mengenali saya sebagai “maknya” Na Willa. Merekalah yang giat mempromosikan buku tipis ini ke mana-mana, ke pada siapa saja yang datang ke Post. Lewat Na Willa kami berteman, lalu menerbitkan Aku, Meps, dan Beps. Sambil tak henti mendorong saya menyelesaikan jilid 2 Na Willa.

Berkat Post, Na Willa bertemu dengan banyak teman baru. Jadi sahabat banyak anak, ayah ibu, dan guru. Dari sini, Na Willa berangkat ke mana-mana. Mulai dengan ikut dipajang di Frankfurt Book Fair 2015, lalu ke London Book Fair tahun lalu. Lalu membuka pintu kelas penulisan cerita anak bersama DKJ. Mempertemukan saya dengan banyak sahabat baru, dan hari ini membawa saya menikmati langit Britania Raya. Ah Na Willa.

Andika Budiman dari Kineruku membuat tulisan tentang perjalanan Na Willa. Ini link-nya. Silakan: https://kineruku.com/perjalananan-buku-na-willa/

Lalu ada tulisan Ardiwilda tentang isi Na Willa, untuk teman-teman yang belum sempat membacanya: https://ardiwilda.com/2015/03/01/pertanyaan-dari-na-willa/

***

  • Maesy dan Teddy dari Post Santa dan Post Press yang begitu mencintai Na Willa, bahkan ketika saya hampir melupakan kehadirannya.
  • Sekolah Kembang yang memilih Na Willa sebagai bacaan untuk anak-anak di sana. Ibu Inez, Ibu Arum, Ibu Tya: peluk kalian semua.
  • Ibu dan Bapak Guru Sekolah Pelita Harapan dan Ibu Salony Wijaya dari Sekolah Bina Gita Gemilang.
  • Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta
  • Komite Buku Nasional
  • Patungan.net yang lewat programnya membuat Na Willa lahir tahun 2012
  • Cecillia Hidayat yang menggambar buku ini dengan indahnya.
  • Dan tentu saja semua sahabat Na Willa di mana pun kalian berada.

Terima kasih sangat.
Peluk sayang dari kami berdua:
Na Willa & Reda

 

PS: Oya Na Willa sedang cetak ulang saat ini. Periksa beritanya di Toko Buku Post, di Pasar Santa (IG @post_santa). Cek juga siapa tahu masih tersedia di Toko Buku Aksara Kemang, @demabuku, @bukupocer dan toko buku indie serta toko buku online lainnya.

2 Comments

Leave a Reply