hari-hari berpuisi#1: Satu sore di Betsey Trotwood

Some Cannot Be Caught, The Emma Press

Apa yang saya lakukan di Inggris di masa residensi ini?

Yang pasti saya harus menulis. Cari, kumpul, masak ide, buat buku berikut. Karena itulah tujuan utama residensi penulis Komite Buku Nasional ( http://www.islandsofimagination.id )

Nah, buat menemukan ide itu, pada hari-hari awal, saya isi dengan mengejar pameran, toko buku –khususnya toko buku yang punya ruang  istimewa untuk buku anak, dan museum. Tapi belakangan, saya mulai pilih-pilih. Karena kalau dituruti semua, saya tak akan menulis apa-apa. Keasyikan planga-plongo di museum yang rata-rata gratis itu. Bahaya. Soal museum dan pameran dan toko buku ini, saya akan cerita di tulisan lain.

Satu kegiatan yang terasa sudah empat kali saya jalani adalah menghadiri acara pembacaan puisi. Tadinya saya mau gabungkan saja apa yang saya nonton ini. Tapi acara hari ini di Cheltenham Spa membuat saya memutuskan menulisnya satu-satu saja. Supaya bisa lebih enak bacanya. Boleh ya? Yuk mari kita mulai dengan acara puisi pertama yang saya nonton.

Puisi di Pub
Pembacaan puisi pertama yang saya datangi berdasarkan undangan dari Emma Wright dari The Emma Press https://theemmapress.com/. mengirimkan undangan untuk datang ke acara baca puisi di di Betsey Trotwood https://www.betsey.pub/t di tengah kota London, 12 September 2018.

Betsey Trotwood –diambil dari satu nama tokoh Charles Dickinson di bukunya David Copperfield– adalah sebuah pub klasik tiga lantai bergaya Victoria, berumur lebih dari seratus tahun. Ruangannya tidak luas. Mungkin hanya 1/3 Kedai Tjikini.

Lantai 1 (sejajar dengan jalan), adalah tempat bar dan pub berada, ramainya bukan main. Teras di luar pun penuh pengunjung yang mengisi bangku-bangku kayu. Pengunjung yang merokok bisa duduk di sana. Di bawahnya, ada ruang untuk bermusik. Cukuplah untuk 50-70 orang. Dua lantai atas pub (lantai 3), adalah ruang yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan. Lantai duanya? Tak untuk umum.

Di lantai tiga inilah acara baca puisi terbitan The Emma Press, berlangsung. Ini adalah bagian dari peluncuran buku puisi Some Cannot Be Caught – The Book of Beast. Buku ini berisi puisi karya 36 penyair yang disatukan dalam satu tema tentang binatang dan manusia yang hidup berdampingan di bumi.

Pukul 6 sore saya sampai di sana, terang sisa matahari masuk lewat jendela-jendela besar berkaca dan berbingkai besi. Di ruangan ada panggung segitiga setinggi 40 senti, menempel di sudut, dilengkapi mikropon. Meja bar yang kosong jadi tempat pajang buku yang diluncurkan malam itu. Ketika saya tiba, ruangan sudah agak penuh, terisi oleh beberapa penyair yang karyanya ada di buku itu dan pengunjung yang rata-rata berusia cukup lanjut. Duh, kemana ini yang muda-muda?

Ternyata, sekitar 15 menit sebelum mulai, berbondong-bondong dedek-dedek manis dan ganteng gedabrukan naik ke lantai ini. Rupanya minum-minum dulu di bawah. Ruangan langsung padat.

Semua berlangsung cepat: kata pembuka tak lebih dari tiga menit, dilanjutkan pembacaan puisi yang disampaikan dengan begitu rileks oleh para penyairnya. Saking rileksnya, mereka asyik saja menyelipkan kalimat tambahan di puisinya yang kemudian memancint tawa pengunjung. Sehabis membaca, mereka bergabung dengan penonton. Mengobrol (santai juga). Oya saat pembacaan berlangsung, penonton bisa memesan minuman dan makanan dari lantai bawah, yang dibawa naik dengan gegap gempita oleh para karyawan pub ini (mungkin karena tangga curam dan gelap jadi gedubrakan itu penting. Mungkin lho).

Sebelum jam sembilan malam, semua sudah beres.
Jujur nih, sebelum sampai ke tempat itu, saya agak deg-degan. Kira-kira nanti paham nggak ya dengan apa yang dibacakan. Kira-kira nanti bacanya macam apa ya? Ternyata semua berlangsung baik. Sangat baik, bahkan. Saya pulang dengan hati senang. Sepanjang jalan –di tube- saya masih bisa mengingat dua baris terakhir puisi Cheryl Moskowitz, Pond Requiem:

Let’s winter here together, friend,
for none of us can know our end.

Sampai di “rumah” saya membaca ulang puisi-puisi di buku itu. Sore yang menyenangkan. Sungguh.

Catatan:

Silakan teman-teman cek link The Emma Press – small press, big dreams  https://theemmapress.com/ untuk melihat buku apa saja yang sudah terbit dari penerbit keren ini.

 

 

Leave a Reply