Hari-hari di BRITANIA RAYA #1

Ini adalah catatan saya di Britania raya. Beberapa bagian dari tulisan pertama ini sempat muncul di posting terdahulu. Semoga tak keberatan.

Saya ke Inggris.
Ya ampuuuun, bisa sampai juga ke negeri ini dan tinggal cukup lama pula. Bukan sehari, seminggu, atau sepuluh hari…. Tapi 60 hari. Dua bulan. Maturnuwun Gusti Allah awit saking berkat panejenengan.

Ngapain aja ya selama itu?
Saya punya sekian halaman rencana, tapiiii itu kan masih rencana. Dibuat berdasarkan, wawancara dengan Maesy Ang, Teddy WK, Rio Damar, dan tentu saja internet.

Kota tujuan: London, Birmingham, dan teman-temannya. Banyaklah. Sekali lagi: ini baru rencana yang tampak sangat mungkin dan gampang di atas kertas. Waktu sepanjang 60 hari terasa banyak, tapi kenyataannya? Lihat nanti. Belum lagi urusan duitnya. Emangnya jalan sana sini nggak pakai ongkos, Neng? Mau hemat? Silakan jalan kaki. Trotoar mendukung, cuaca nggak bikin keringetan. Tapi mau sampai sejauh mana? Nggak semua tempat tujuan bisa dicapai dengan mlaku timik-timik. Bisa lepas kaki ini nanti. Urusan duit memang selalu diingatkan oleh siapa pun yang saya tanyakan perihal Inggris. Hati-hati, London itu kota mahal. Kalau strategi kurang bagus, tabungan bisa lenyap tanpa permisi. Bahaya bener.

Dari Jakarta saya naik Cathay Pacific ke London.
Saya pesan tiket sekitar dua minggu sebelum berangkat, setelah visa beres. Dan di sinilah ketidak-telitian saya muncul: lupa cek beda waktu antara banyak negara itu. Pesawat berangkat agak terlambat dari Jakarta. Biasalah, bandara kita memang penuh banget kan? Ternyata di udara, entah bagaimana, Mas Pilot bilang kalau rute kali ini terpaksa berputar sedikit, agak jauh dari yang biasanya. Saya masih tenang-tenang saja saat itu. Baru deg-degan, ketika menjelang mendarat saya cek tiket lanjuta ke London, Heathrow. Eh buset, waktunya nggak sampai 60 menit! Dan waktu yang saya punya terus berkurang karena pesawat terus bergerak mengelilingi bandara, mencari tempat parkirnya. Jantung saya lagi diajak berdebar lebih kencang, nih. Di luar sana, sedang ada “keriaan” kecil. Beberapa truk ber-container malang melintang di sekitar bandara. Kok bisa sih? Lagi pengen, kayaknya. #sigh.

Mbak Pramugari Senior CX mendekati saya begitu pesawat mendarat. Dia bilang sebaiknya saya nempel di pintu keluar sebelum penumpang lain antri di sana. Katanya lagi ini harus dilakukan karena kalau tidak, saya bakal ketinggalan pesawat ke Heathrow. Waaks! Saya langsung siap grak di depan pintu. Begitu pintu terbuka, saya disambut oleh seorang petugas CX paruh baya. Dia menyapa saya dengan suaranya yang rendah dan tenang.

“Kita berjalan agak cepat, ya?” katanya sementara matanya menyapu bawaan saya yang cuma satu koper ukuran kabin dan tas ransel yang sudah nempel di punggung.
Lari juga boleh, Mas!
Nggak naik buggy?
Nggak kelihatan. Mungkin saya dianggap cukup fit untuk lari-lari kecil (dan besar), lagipula jarak gate berikut tak terlalu jauh –katanya. Okeh!
Sambil jalan cepat (lari, tepatnya), Mas bersuara rendah itu bilang kalau pesawat saya juga terlambat datang, jadi tenang saja. Kalau gitu, jalannya boleh sedikit melambat, Mas? Hmm, ternyata dia tetap laju. Setengah mati saya mengejar langkahnya yang lebar-lebar itu. Lalu dia tanya mau ngapain ke London. Mas, seriously? Can’t you see how panic I am now ? Look, I am trying so hard to catch my breath and you believe this is the best time to interview me? Saya jawab dengan senyum selebar-lebarnya saja. Yang pakai kalimat via IG atau FB, ya Mas. Boleh?

Lalu saya tiba di gate pesawat menuju London. Langsung menggelinding masuk. Lupa berterima kasih kepada Mas bersuara rendah itu. Saya tiba di pesawat 15 menit sebelum take off. Tanpa harus mengatur arah sorot mata, saya tahu seisi pesawat memandangi saya dengan gemas. Maaf, maaf, maaf!

Pelajaran moral dari peristiwa ini:
Periksa baik-baik jadwal penerbangan kalau trayeknya pakai transit sana sini.
Jarak waktu transit minimal 2 jam. NGGAK BOLEH KURANG.
Kecuali kalian adalah titisan The Flash.

Dari London saya lanjut ke Konstanz lewat Zurich, menemui adik saya yang cantik dan pinter masak dan jagoan jahit (ya ampuuuun, kamu canggih bener, Ise!) bersama Herman, suaminya yang seperti ensiklopedia berjalan untuk urusan bangunan, museum, tempat-tempat keren di Jerman/Prancis/Swiss. Kalau mau tanya soal tujuan wisata yang nggak umum, ipar saya ini juaranya. Beneran. Nanti saya mau nulis semua tempat yang kami kunjungi. Siapa tahu ada yang mau ke sana nanti.

Perjalanan menuju London lancar jaya.
Menyenangkan. Mata sampai pegal nonton film, telinga pengang dengar segala musik, perut kenyang oleh makan dan minuman yang nyam-nyam. Halleluya!

Setiba di London, saya cari gate berikut menuju London.Pasti kalian bertanya: kenapa nggak langsung dari Jakarta ke Zurich?
Hmmm, nggak bisa.
Kenapa?
Buat urusan lain, tentu bisa. Tapi buat yang satu ini, nggak bisa aja.

Setelah delapan hari di Konstanz, saya menuju ke Zurich lagi (Konstanz, Jerman terletak di tepi danau yang menempel dengan Zurich) untuk kembali ke London. Ada 60 hari menanti saya di ibukota Britania Raya ini.

Perjalanan di udara tidak lama.
Seperti Jakarta – Yogyakarta, tak sampai 60 menit. Jam lima sore waktu setempat, saya tiba di Heathrow. Oh, betapa luasnya bandara ini. Sangat huru-hara pula.
Ke mana pun mata memandang, yang tampak adalah wajah emak-emak yang pegal dengan bayi di tangan, bapak-bapak yang sibuk dengan koper-koper besar, kakak-kakak dengan bawaan ransel yang lebih tinggi dari badan sendiri, kakek dan nenek yang kerepotan dengan topi, selendang, dan entah apa lagi, anak-anak yang rewel karena badan tak enak setelah sekian jam duduk di pesawat…. Saya ada di sana, bergabung dengan mereka. Sementara itu –entah mengapa– bandara ini tak memberi rasa nyaman. Beda dengan Hong Kong yang benderang, tenang, bersih, langit-langit tinggi, terasa begitu lapang…. Mungkin nyala lampu yang tak benderang mempengaruhi suasana hati orang-orang di area ini. Mungkin, lho.

Tapi ini London. Ia punya hak buat ngapain aja dengan bandaranya. Mau sungup, mau sumpek, mau remang-remang, mau rada jorok, mau lift-nya cuma dua…. NGGAK APA-APA! Ingat, ini London, Britania Raya.

Untung saya cuma bawa si koper hijau ukuran cabin dan tas ransel biru Fjallraven Kanken 13, jadi bisa bergerak lebih cepat, lari sana sini, mencari…. LIFT!

Dan seperti yang saya ceritakan di posting terdahulu: menunggu lift (yang cuma dua itu) untuk mencapai pangkalan taksi di bandara Heathrow itu PR banget. Berkat cara Jakarta, pencet tombol turun dan naik sekaligus, barulah saya bisa masuk lift. Kalau yang naik datang: masuk! Setelah itu ikut terus sampai lift turun sendiri. Soal dipandangi orang banyak kenapa saya tidak turun-turun, terserah. Yang penting sampai ketemu lantai bertaksi.

Ternyata (lagi) yang berminat naik taksi banyak! Musti antri. Cukup panjang pula. Begitu duduk masuk taksi, saya sebutkan tujuan yang dimaksud kepada Pak Supir: 44 Dartmouth Road, Willesden Green. Lalu… ini nih yang bikin gemes: Pak Supir tampak takjub seakan baru mendengar sebaris kalimat dalam bahasa planet. Mukanya heran. Hmmm, kenapa sih, Pak? Apa cara bicara saya begitu ajaibnya sampai forty-four Willesden Green terdengar seperti froifroidromut wis tho den atau apa gitu? Saya ulang lagi. Mukanya nggak berubah, alisnya masih di posisi heran. Nggak mau mengulang baca untuk ketiga kali, saya ulurkan saja print out alamat yang disambut dengan semangat. Matanya membesar, senyum terkembang, lalu dia baca dengan suara cukup keras. Idih, bunyinya sama aja kayak yang saya suarakan tadi, deh Pak. Beda tipis banget: yang ini lebih berat (nadanya) dan lebih kumur-kumur (pengucapannya).

Hampir setiap hari, selama 60 hari di Inggris, saya ke tempat ini. Willesden Green Station.

Taksi bergerak super laju. Pak Supir tak berminat ngobrol. Mungkin dia menghindari munculnya letupan bunyi-bunyi tak dikenal dari mulut saya. Tak masalah, toh radio taksi dibiarkan berbunyi nyaring. Saya putuskan untuk menyimak baik-baik. Mencoba mengulang beberapa kata yang tertangkap telinga. Bahasa Inggris di London-Inggris nih. Konon beda lho dari bahasa Inggris di tempat lain. Tapi konsentrasi mendengarkan omongan dalam bahasa Inggris di radio Inggris terusik oleh tampilan angka argo taksi. Bujubuneng sudah sama dengan harga tiket Jakarta – Denpasar PP! Ampooon. Bodoh nian saya ini nggak kepikir naik Uber yang bisa 2/3 tarif taksi biasa (meski masih mahal juga, bisa buat beli tiket Jakarta – Jogjakarta PP). Sepanjang jalan saya berharap pengkolan berikut adalah tempat tujuan saya. Eh, taksi masih lanjut. Begitu terus sampai pegal berharap. Taksi bergerak dari Heathrow sejak matahari masih bersinar, dan ketika sampai di tempat tujuan langit gelap sudah gelap, lampu jalan sudah menyala. Jauh bener, sik?

Sesampai di Wisma Siswa Merdeka, saya terpaksa buka dompet lagi. Uang yang sudah dikeluarkan sejak naik taksi ternyata nggak cukup. Di dompet, lembaran poundsterling yang sudah saya siapkan sebelum berangkat (dan kayaknya banyak deh!), langsung tinggal sehelai. Tapi sekali lagi, ini London. Bukan Jakarta. Apalagi Ngunu (ayo, di manakah Ngunu itu?). Duit aja beda. Sebutir koinnya yang 1 Pound itu bisa dipakai naik taksi dari Gambir sampai RS Cipto (dalam kondisi jalan lancar).

Selamat datang di London, Cik!

1 Comment

Leave a Reply