Kamis

Ini hari Kamis? Berarti harus siap-siap menuju ke Selatan dong. Mana tas isi buku yang harus di bawa? Sebentar, sebentar, Kamis ini mau bahas apa ya? Coba cek dulu. Eh, sudah habis? Selesai? Yaaaah!

Mei 28, adalah pertemuan pertama saya dengan Gesya dari Gudskul. Ia mengajak bikin kelas menulis cerita anak di sana. Pertemuan yang saya perkirakan bakal singkat padat, ternyata berlangsung hingga sore. Kami mengobrol panjang dan seru tentang buku anak. Bahkan mungkin bisa sampai malam kalau kami tidak terlanjur punya agenda lain malam itu. Senang.

SC Menulis Cerita Anak

Dari pertemuan itu, disepakati Short Course Menulis Cerita Anak akan mulai tanggal 4 Juli dan berakhir di 29 Agustus, lalu disusul dengan membuat karya yang akan dipamerkan buat umum. Ini menarik banget. Pameran –mau tak mau—membuat peserta kelas menerapkan apa yang dipelajari di kelas. Sekaligus menghadirkan karyanya buat khalayak. Kelas belum berlangsung, saya sudah membayangkan betapa serunya para peserta menuangkan idenya nanti.

Gara-gara lupa mencocokkan tanggal dan hari (penyakit baru nih), terpaksa kelas digeser ke hari Jumat, tanggal 5 Juli. Tapi karena masih terkait dengan “penyakit baru” tadi, jadwal tanggal 5 juga nggak aman-aman banget nih. Rencana berangkat dari rumah supaya bisa santai sampai di Gudskul, gagal. Hari itu saya punya jadwal meeting panjang bener. Jam 5 meeting terakhir baru dimulai. Lha kapan kelarnya nih, sementara jam 7 malam saya sudah harus ada di depan kelas. Kacau!

Meeting –untungnya—berlangsung cepat. Jangan-jangan pak bos melihat saya sudah kayak cacing kepanasan, pengen cepet lompat keluar saja. Keluar kantor saya baru mikir, ke sana naik apa ya? Kalau naik kendaraan umum, meski teorinya lancar, tapi kan waktu nunggu di halte dan stasiun harus diperhitungkan, dan saya nggak punya banyak waktu nih.

Akhirnya saya pilih gojek saja. Naik motor –teorinya- lebih cepat. Dan betul: saya bisa sampai di tempat tujuan jam 7 kurang 15 menit. Cakep!

Kelas pertama berlangsung di ruang lantai atas yang nyaman. Sebelas peserta (yang sejak pertemuan kedua tinggal 10 orang, rontok satu) duduk mengelilingi meja, mulai berbagi tentang niat ikut kelas ini, menyimak, bertanya, menjawab, lalu mulai menulis satu dua cerita.

Harusnya kelas ini selesai jam 9 malam. Tetapi kami terlalu asyik berbagi tentang apa saja: dari buku cerita sampai makanan sampai film kesayangan hingga urusan parenting! Jam 11 malam kami baru keluar dari ruangan, masih dengan tertawa-tawa, dan melempar cerita satu dua. Ah, kelas yang menyenangkan!

Kelas minggu berikutnya, saya kembali rusuh. Hari itu –11 Juli—adalah H-1 pameran arsip AriReda di Aksara. Kalau berangkat ke GudSkul, saya akan meninggalkan Felix sendirian di situ, sementara PR pameran banyak betul. Tapi kalau tetap di Aksara, saya bakal kehilangan satu jadwal mengajar yang sudah diatur dengan titi-teliti itu. Timbang sana sini itu berakhir ketika Felix mengusulkan kelas dipindah ke Aksara saja. Cerdas!

Jadilah kelas kedua berlangsung di ruang seduh, di Aksara. Kelas ketiga, terpaksa diliburkan karena hari itu ada acara diskusi terkait pameran AriReda. Tetapi sebagian besar peserta kelas hadir di sana.

Setelah tiga kelas pertama itu, Kamis selanjutnya berlangsung lancar di Gudskul. Kami berkumpul, berbagi cerita/pengalaman/keluh kesah/kebingungan … sebutlah apa saja, kami bahas setiap Kamis malam. Tak pernah sekali pun kelas selesai jam 21 malam. Selalu dan selalu mendekati tengah malam. Paling cepat jam 23. Ya, kelas kami seseru itu. 

Menjelang kelas berakhir, ruang kelas berpindah ke tempat yang super sempit (setengah ruang kelas kami di lantai atas), tanpa kursi, duduk super merapat. Tapi di ruang padat rapat ini, diskusi jalan terus, bahkan sangat ketat membahas karya yang akan dibuat dan dipamerkan nanti. Mereka siap sedia saling bantu. Keluhan teman didengarkan dan dicarikan solusinya. Keren pisan!

Sementara saya pergi tour, teman-teman ini menyiapkan karya mereka. Beberapa sudah sempat kami diskusikan di kelas, atau via WA ketika saya pergi-pergi itu. Tapi ada yang mendadak punya ide baru di menit-menit terakhir. Biasa ini mah.

Pulang dari sana, langsung ke ruangn pamer yang sudah disiapkan di Third Eye. Satu-satu muncul membawa karyanya. Mata mereka berbinar, wajah penuh senyum. Dan ketika semua sudah terpampang, lalu pameran di buka: saya terharu habis-habisan. Pameran berlangsung seminggu. Pengunjung yang lihat-lihat juga baca-baca cerita karya mereka terus berdatangan hingga pameran selesai. Lalu satu-satu datang lagi untuk melepas karya dari ruang pamer.

Satu periode selesai.

Tiba-tiba saya merindukan Kamis malam di Gudskul. Merindukan dua jam plus plus plus yang kami lewatkan bersama. Dari kelas ini saya belajar banyak banget. Ide cerita mereka datang dari sudut-sudut yang tak terduga: mulai dari perilaku anak sendiri yang sedang tumbuh hingga mimpi buruk yang terus muncul, dari kenangan masa kecil yang penuh tawa hingga kecemasan yang tak mau pergi.

Terima kasih: April Ramadhan, Farhan Yuzevan, Ikko M.F, Luna Siagian, Marcellina Dwi KP, Mutiaranda Aulia, Nabila Firdausiyah, Neidy P. Laksmita, Noorlintang Suminar, dan Ria Jamin.

Terima kasih untuk Kamis kita yang manis.

#missyoumuch

Leave a Reply