Benyek

Saya pikir, rumah kami sudah bebas tikus, ternyata tidak.

Keberadaan tikus tampak tetika sedang kerja di dapur. Sedang siap-siap live eh makhluk berkaki empat, berbulu abu-abu, berbuntut panjang itu lewat buru-buru di bawah meja televisi. Saya teriak keras-keras, lempar sandal (yang malah mendarat di layer televisi!), sementara dia menabrak pintu (yang saya Grendel), mental dan tiba-tiba menghilang entah di mana. Asem!

Besok malamnya, saya menunggu dengan sapu lidi yang sangat besar. Dia tidak lewat. Tapi waktu saya ketak-ketik di dapur, dia lewat di depan kulkas. Nggak bener nih.

Saya lmembahas ini dengan Frisca. Dia sigap membantu dengan menghubungi penyedia jasa usir tikus dan hama lain. Mereka datang dengan cepat, dan langsung membuat analisa. Rumah saya ternyata sudah didiami oleh keluarga tikus Mickey Mouse: tikus yang biasa ada di rumah tinggal. Cirinya bertelinga lebar seperti tokoh kartun yang terkenal itu. Kok tahu? Mas Irsan, sang supervisor usir hama itu, bilang bahwa itu tampak dari jejak kotoran, jejak di tembok yang dilalui tikus… dan ciri lainnya yang saya tak ingat lagi. Setelah hitung-hitungan dan melihat medan pertikusan di rumah saya, kami sepakat untuk bekerja sama sesegera mungkin.

Dua hari kemudian, saat eksekusi tiba. Beberapa perangkap dipasang di tempat-tempat yang diyakini bakal dilewati tikus MM. Rumah juga disemprot, mengusir kecoak, semut yang menghinggapi apa saja (termasuk es teh tawar!), dan musuh besar saya: NYAMUK. Mas petugas bilang, dalam sehari dua, bisa jadi ada yang tertangkap. Saya tinggal buang saja papan perangkap (beserta tikusnya). Gampang, ringkes. Baiklah.

Pada malam ketiga, terdengar krosak-krosok di perangkap dekat kulkas. Nah!

Besok saya akan bereskan dia. Malam itu tidur sambil senyum. Bangun pagi, langsung tengok perangkap, eh KOSONG! Bade kamana, euy? Perangkap lain saya tengok, umpan hilang tapi tak ada yang terjerat di situ. Hmmm…. Saya lapor kepada petugas yang memasang perangkap. Katanya, ditunggu saja.

Lima, enam hari berlalu tetap tak ada tanda-tanda MM tertangkap. Saya memilih berprasangka baik saja, barangkali dia sudah berhasil melarikan diri, dan memutuskan tak kembali.

Lalu tiba-tiba dua hari yang lalu, sepuluh hari setelah perangkap terpasang dan yang mau ditangkap tak tampak di mana-mana, di lantai dua tercium saya mencium bau yang sangat khas: bangkai tikus. Saya tengok semua kolong lemari, samping mesin cuci, ember-ember besar… segala penjuru. Tak tampak jejaknya. Aduh di mana ini? Harus terselesaikan segera karena lusa Agus Leonardi akan datang, bekerja seharian, mixing album!

Malam terlewati. Bangkai tak tampak. Jengkel.

Paginya saya kembali tengok sana sini. Tetap tanpa hasil. Mulai putus asa, saya minta bantuan Yanto, tukang sampah yang bertugas di RT kami. Eh, begitu dengar kata “tikus” dia langsung bergidik, mukanya pucat. Dia geli dan tidak tahan lihat tikus. Aduh.

Saya geser ke tetangga sebelah. Sami mawon. Pak Mo geleng-geleng sedemikian rupa sampai saya takut kepalanya  copot dari leher. Masuk rumah, kembali kesal, bau bangkai itu makin kuat. Aduh!

Saya mandi di kamar mandi bawah. Lalu menuju kamar kerja, tapi mampir ke kamar mandi di lantai atas. Dan oh, oh, oh, di lantai kamar mandi, di bawah wastafel, terbujur dengan manisnya tikus MM! Saya –tak sadar—teriak sekeras-kerasnya. Kenapa? Nggak tahu. Tahu-tahu teriak aja. Duh, ini musti dibuang. Tapi bagaimana? Saya nggak mau memandangnya ketika mengangkatnya. Duh, duh….

Dengan tetap berteriak-teriak (heran deh), saya ambil koran, bubuk kopi, kantong plastik, kaos tangan plastik, sapu, serokan, penutup hidung. Oh, ribetnya! Dari depan pintu, koran dilipat agak lebar, menutupi pandangan saya ke tubuh yang rilek berbaring itu. Plastik berisi bubuk kopi sudah siap di samping. Nah, sekarang moment of truth: MM harus dipindah ke plastik. Tubuhnya sudah tertutup koran. Tapi, tapi, tapi saya harus memegangnya bukan? Yaiks! Yaiks! Yaiiiiiiiiiiiks!

Pakai serokan, dia tak terangkat. Terpaksa saya menggenggam koran yang di bawahnya ada si dia. Dan ternyata oh ternyata…. dia benyek banget! Yaiks, yaiks, yaiiiiiiiiks!

Tapi mau bagaimana lagi? Si benyek-nyek-nyek saya angkat (yikes!). Masuk plastik, langsung ikat. Buka pintu, lari ke jalan, menemukan gerobak sampah besar RT kami. LEMPAR! Lalu buru-buru  pulang. Sampai di rumah mendadak haus, tenggorokan terasa kurang asik. Kenapa ini? Oh ternyata saya tidak berhenti berteriak (dengan sekuat tenaga) sejak menemukan MM di lantai sampai membuka pintu gerbang rumah.

Ini memang bukan sesuatu yang istimewa. Tapi mengeluarkan si MM dalam keadaan benyek dengan tangan sendiri saya catat sebagai hal penting. Prestasi (meski pakai teriak-teriak berkepanjangan!). Tapi saya tidak mau mengulangnya sih. Semoga kalau ada lagi yang mati, dia sempat jalan ke luar rumah deh. Memegang dia yang sudah benyek itu sungguh sesuatu yang nggak banget! Bener deh. Yaiks!

Catatan: 

Gambar: Character vector created by freepik – www.freepik.com

Urusan usir tikus, kecoak, semut, dan nyamuk di #rumahdalamgang, ditangani PT SISIR KATARINDO Telp : (021) 8253150 . Hp : 081382499864 . Email: sisir.katarindo@gmail.com


Leave a Reply