Puisi…

Hari ini, hari Puisi Dunia*). Dan saya merayakannya dengan mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada dua orang penting.

Yang pertama adalah AGS. Arya Dipayana yang biasa saya panggil Mas Aji. Saya dan Mas Aji sama-sama mahasiswa Sastra Prancis. Entah bagaimana (eh saya tahu sih bagaimananya, hahaha), Mas Aji sering ke rumah dan jadi kesayangan Mak. Ketika ke rumah itu, dia sering membawa puisi-puisi yang baru dibuatnya (kadang dibuat di rumah juga) untuk dikirimkan ke majalah Hai atau Zaman atau entah ke mana lagi. Saya –zaman itu— selalu punya energi buat mendebat pilihan katanya, ngotot mempertanyakan maksud dan isi puisinya. Dan dia –saya tahu—sebel banget kalau saya lakukan itu. Tapi mana mau saya berhenti? Saya kan senang melihatnya jengkel.

Pada suatu hari, dia diminta Pak Sapardi melaksanakan proyek musikalisasi yang digagas bersama Pak Fuad Hassan. Saya terbawa, karena Mas Aji butuh orang yang bisa nyanyi. Hmm, jangan-jangan memasukkan saya ke dalam proyek musikalisasi puisi adalah caranya untuk membuat saya “diam” dan berhenti mendebatnya soal puisi. Saat proses rekaman, saya betul-betul harus nurut pada arahan Mas Aji.

Sesungguh-sungguhnya, kalau bukan karena proyek musikalisasi, di antara saya dan puisi akan tetap terbentang jarak yang lebar. Betul, saya belajar soal puisi waktu kuliah. Tetapi cuma dalam kuliah pengkajian sastra di Sastra Prancis, dan hanya sekejap karena saya memilih berkonsentrasi pada linguistic/terjemahan. Tak tertarik juga untuk ambil kajian puisi di jurusan lain. Kenapa? Karena saya tak tahan menerka-nerka makna yang tersirat dari baris-baris puisi. Kesuwen! Ya kalau terkaannya jitu, lumayan. Kalau nggak? Sudah berlama-lama, salah pula. Lupakan!

Proyek musikalisasi puisi membuat saya belajar membaca puisi-puisi. Dari semuanya, paling banyak membaca karya Pak Sapardi Djoko Damono (yang berulang tahun kemarin, 20 Maret), orang penting berikutnya dalam proses mengenal puisi. Terutama ketika kami rekaman Hujan Bulan Juni yang isinya semua puisi Pak Sapardi.

Saya pikir hubungan saya dengan puisi hanya sebentar. Eh, ternyata berlanjut! Gara-gara musikalisasi puisi, jadi berani ngobrol dengan Pak Sapardi. Berlanjut dengan sering main ke rumah beliau. Bahkan pernah satu kali, saya nekat bikin kelas “Berkenalan dengan Puisi” di Galeri Tembi, di Gandaria. Ceritanya sih kelas untuk umum, padahal sebetulnya saya aja yang pengen belajar langsung dari beliau (ha!). Dekat-dekat dengan Bapak itu memang “sesuatu”. Banyak pelajaran bertebaran yang tinggal dipungut setiap kali kami bertamu ke rumahnya. Bahkan hingga menjelang akhir hayat, Bapak tetap memberi begitu banyak bahan pelajaran. Kalau pakai istilah Felix Dass: menang banyak!

Kalau bukan karena Mas Aji dan Pak Sapardi, tak bakal saya nyanyi puisi tak henti begini. Malah sok-sokan (nekat) bikin puisi buat lagu sendiri!

Mas Aji, Pak Sapardi: terima kasih sangat.

Ah, jadi kangen, deh.

*)UNESCO pertama kali mengadopsi 21 Maret sebagai Hari Puisi Dunia pada General Conference ke-30 di Paris pada 1999, dengan tujuan mendukung keragaman linguistik melalui ekspresi puitis dan meningkatkan kesempatan bahasa-bahasa di dunia yang terancam punah untuk didengar.

Foto AGS Arya Dipayana oleh Yitno; foto SDD oleh Jose Riandi

Leave a Reply