Iseng-iseng, Bikin-bikin

DESAIN GRAFIS. Entah kapan dimulainya, tahu-tahu saya sangat suka mengamatinya. Mungkin sejak jaman Pak sering membawa pulang majalah Elle dan Marie Claire Prancis yang didapatnya di kantor. Mungkin dari buku-buku cerita bergambar yang dibeli Mak setiap kali ia bertemu toko buku. Tetapi yang pasti, sejak bertemu dengan Bebe Indah Miryam, desain grafis itu jadi amatlah menggoda. Saya rajin mengamatinya membuat layout tempat kami bekerja, Gadis. Ketika ia membuat rancangan baru buat Gadis, termasuk mengganti logonya: oooh, saya seperti permen karet, yang menempel di bawah bangku. Nggak mau lepas. Dari Bebe juga saya dapat buku Editing by Design karya Jan V. White. Buku besar dan tebal yang membuat saya belajar banyaaaaaaaaak sekali, dan sampai hari-hari terakhir saya di dunia majalah, ilmu dari buku ini tetap berlaku.

Ketika bekerja di biro iklan, contekan saya bertambah berkat kerja bersama para partner art director saya. Widyalupi Nonis, Maria K. Sum, Ria Untari, adalah teman kerja sekaligus kakak guru yang sampai sekarang ilmunya tetap saya simpan.

DESAIN GRAFIS. Barangkali ini yang membuat saya ngotot kembali ke dunia majalah. Bukan menulisnya, tetapi melihat bagaimana tulisan jadi begitu hidup berkat desain. Dengan atau tanpa foto, tulisan bisa dibuat menggoda untuk dibaca. Training perihal majalah Cosmopolitan di New York membuat saya memahami lebih jauh tentang desain grafis, yang ternyata memerlukan logika. Tak melulu rasa. Noni Soeparman adalah rekan kerja sekaligus partner adu ngotot setiap kali kami akan mengeksekusi cover.

DESAIN GRAFIS.Terlalu menggoda untuk tidak dicoba. Dan hari itu tiba ketika Dua Ibu akan membuat album musikalisasi puisi. Minta tolong pada seorang desainer, nggak jadi-jadi. Minta pada yang lain, hasilnya sungguh tak menggembirakan hati. Akhirnya nekat bikin sendiri. Dibantu Andri Sonda, saya minta ia mengajari aplikasi photoshop (super sederhana) dan indesign (secukupnya). Setiap langkah saya catat, lalu utak-atik sendiri. Oh, keringetannya seperti air curahan dari ember, dong. Deras. Tapi hati terlalu geram untuk menyerah.

Cover album Gadis Kecil, dibuat dengan memanfaatkan foto Soca yang sedang main hujan, dan tulisan tangan saya yang “ibu-ibu” banget (andalan bikin surat ijin nggak olahraga buat teman-teman SMP). Ketika jadi, banyak yang berkomentar, sederhana tapi nendang. Terima kasih. Sederhana karena bisanya itu, hahaha… Kalau nendang, mungkin karena pakai warna andalan: merah.

Setelah itu, album Becoming Dew. Yang ini –menurut saya—tidak sukses sama sekali. Tetapi album ini kan dibikin hanya buat dokumentasi dari dua orang yang baru berbaikan setelah musuhan sekian tahun. Jadi biar kelihatan, tercatat, ya pakai cover deh. Dibuat dengan memanfaatkan foto suami dan type face yang ada di computer saat itu. Usaha: less than zero.

DESAIN GRAFIS.Dan saya semakin tergoda, semakin nekat mencoba ini itu. Hampir semua cover album AriReda dan materi promo lainnya (poster, undangan, e-flyers) saya pembuat desainnya. Kecuali Suara dari Jauh, yang semua gambarnya dibuat oleh seniman idola, Ruth Marbun. Setelah proyek yang satu ini, saya kembali menggunakan karya Ruth untuk album terakhir, AriReda Menyanyikan Puisi Sapardi Djoko Damono.

Membuat desain cover album tak selalu langsung jadi. Seperti album kedua AriReda, yang muncul 8 tahun setelah album pertama itu. Waduh desain yang nggak masuk seleksi lebih dari 25! Bahkan sempat minta bantuan dua desainer untuk ikutan bikin. Tetapi tidak lolos seleksi  kurator saat itu: Hendro Yuwono, Felix Dass, dan Ari Malibu. Sampai putus asa rasanya. Cover yang akhirnya terpilih, saya buat setelah melihat pameran karya Ibu Sri Astari Rasjid di Kawasan Kota Tua. Terpesona saya pada patung Drupadi buatannya. Saya foto dari belakang, lalu iseng-iseng saya beri tambahan gambar daun, lalu beri teks. Eh, langsung approved! Moga-moga emang mereka senang, bukan karena kasihan sama saya yang tiap hari kirim desain.

DESAIN GRAFIS.Ada apanya ya? Kok bisa begitu menggelitik? Mungkin bermain dengan gambar, dengan teks, dengan warna. Apa pun itu, saya jadi senang mendesain. Dari cover album, merambah ke cover buku, sampai desain buku secara utuh (Na Willa itu saya yang desain, dirapikan oleh Cik Guru Noni Soeparman).Semua bikin “nyala” meski ada juga sisi nggak asiknya ketika memeriksa teks, foto/gambar jangan sampai terpotong/tertimpa teks(ini sering terjadi, sih) sebelum naik cetak.

Satu yang bikin agak gimanaaaa pas bikin adalah buku Catatan Perjalanan AriReda. Tiap baca teksnya, ada saja yang mau ditambah dan diganti dan dihapus. Kacau. Untung ada Felix yang gebah-gebah, jadi selesai tepat waktu. Oya, satu hal yang selalu bikin gemas adalah soal pilihan fonts/typeface. Kalau kerja sama Felix, dia hampir selalu complain soal huruf yang saya pilih. Kurang modern. Kurang kekinian. Kurang sleek. Pas dia bilang begitu, saya selalu jawab, “Masak sih?” Tapi setelah diam sebentar, dan dilihat-lihat lagi dengan hati tenang,  yang dia bilang itu benar adanya, hahahaha. Kurang ngulik huruf banget! Belajar lagi nanti, ya.

Eh, belajar lagi? Memangnya mau desain-desain terus? Hmm, nggak tahu ya. Tapi yang pasti beberapa bulan lalu, sempat bikin desain logo dan selongsong untuk restoran kesayangan, The Yap’s Kitchen. Saya suka banget ngerjainnya. Semoga yang dibikinin senang juga.

Jadi akan mendesain terus?  Barangkali. Meski telunjuk sering pegal dan mendadak kaku karena kelamaan geser-geser trackpad dan kesal kalau ada yang terlewat karena nggak teliti, kegiatan yang satu ini sangatlah mengasyikkan.

Category:

Tags:

Share:

Leave a Reply