HAI, LONDON!



#60+30hari di Inggris

Ilustrasi: Eri Gaudiamo @epoysanjuro

Dulu sekali –menjelang lulus SMA, di sebuah agenda—saya memberi tanda di peta pada beberapa kota yang ingin saya kunjungi. London salah satunya. Seorang teman heran dengan pilihan saya, mengapa ke London, kota yang sangat berkabut, selalu hujan, selalu dingin, dan selalu kelabu itu? Mana saya bukan penggila The Beatles pula. Jawab saya waktu itu: kalau saya memberi tanda pada Paris dan Berlin, mengapa London tak didatangi? Saya ingat menyampaikan kalimat itu dengan yakin, meski agak malas membayangkan kabut dan hujan dan dingin dan kelabunya London, seperti yang selalu muncul di film-film itu.

Dan dua belas tahun lalu, saya sampai London, cuma 4 hari untuk urusan pekerjaan. Meski sudah merasa siap lahir bathin, bawaan lengkap, ternyata beigtu sampai di sana sadar: persiapannya nggak cukup! Kurang banget! Ya hasilnya jelas: empat hari itu begitu menyiksa. Saya jengkel non-stop, dari datang sampai pulang.

Salah satu adalah soal sepatu. Saya bawa dua sepatu, yang menurut saya bakal bikin penampilan gaya dan professional dan asik lah macam orang London pada umumnya (halah!). Tapi saya lupa, di sana yang diperlukan adalah sepatu yang nyaman buat jalan jauh karena ke mana-mana saya jalan kaki. Selain niat menghemat juga karena tersesat melulu. Naik tube aja salah ngantri peron. Sepatu yang saya bawa itu –keduanya—justru bikin kaki bengkak. Tiap malam musti dikompres, dikasih obat gosok. Saya nggak ngerti deh gimana upaya hotel buat menghilangkan aroma arak gosok saya yang maha kenceng di kamar itu.

Salah dua terletak pada hotel yang dipilih terletak di pojok antah berantahnya London. Dari tempat acara berlangsung jauhnya bukan main! Saya harus naik kereta dua tiga kali. Terus, stasiun tempat saya naik itu taka da escalator, cuma tangga tua dengan jarak anak tangga yang jauh-jauh. Duh, sudah lelah mahal, bengkak kaki semakin menjadi-jadi. Ujung-ujungnya beli boots yang super baik hati pada kaki. Mereknya saya ingat sampai sekarang: Scholl. Boots-nya super nyaman, membuat kaki saya yang lebar ini tampak begitu bahagia.

Salah tiga, coat. Karena mau menghemat, saya cari coat dengan harga semurah mungkin tapi bisa bikin badan sehangat-hangatnya. Ternyata sulit. Yang modelnya cakep, harganya cakep juga. Setelah ngider sana sini, akhirnya saya dapat coat dengan harga yang murah banget, tapi lumayan hangat. Modelnya? Nah ini dia! Ternyata meski berhasil menghangatkan (bahkan hingga level kegerahan), ketika diajak jalan sana sini coat ini ngerepotin banget!

Ilustrasi: Eri Gaudiamo @epoysanjuro

Modelnya yang “unik” bikin saya seperti menggendong gulungan kasur ke mana-mana. Karena bahannya yang licin dan model jahitan yang macam quilt membuat bagian bahu dan lengan menggelembung, tas tak bisa nyangkut di pundak. Kalau pun sampai bisa nyangkut, dalam tempo sesingkat-singkatnya tas melorot dengan sukses. Ribet bangeeeeet! Belum lagi kalau kena hujan. Duuuh, huru-hara banget iniiiiiiii! Padahal cuma urusan bawa tas ajah. Hadeuh.

Nah, belajar dari pengalaman yang pegel, lelah, bête, dan susah belasan tahun lalu itu, buat berangkat kali ini persiapan harus jauh lebih baik. Apalagi saya akan tinggal lama di sini. Kalau sampai kaki bengkak melulu, mau lihat apa nanti di sana? Bagaimana mau lincah bergerak kalau jaket bikin ribet saja?

Salah empat: koper! Waktu pergi tahun 2006 itu, koper saya setinggi pinggang lebih dikit. Entah kenapa saya pilih koper sebesar itu, padahal tinggal di sana cuma 4 hari saja. Walhasil begitu keluar bandara, saya langsung menderita! Koper yang maha besar itu ternyata keras kepala dan berkepribadian super kuat: buat dipindah atau geser posisi saja susahnya bukan main! Diperlukan tenaga super banyak untuk membuatnya mengikuti arah tarikan atau dorongan saya. Ketika naik taksi, Pak Supir mau membantu. Habis itu dia langsung sesak napas. Kayaknya dia menyesal telah membantu saya.

Tapi penderitaan belum selesai: ternyata hotel yang saya datangi tak punya lift. Kok bisa ya? Maka jadilah saya menggendong si koper maha berat itu ke atas. Porter nggak ada? Nggak! Ini hotel murah dan memprihatinkan banget. Eh, saya sih yang prihatin gara-gara nginep di situ. Di hotel ini cuma ada mas resepsionis yang merangkap tukang beres-beres kamar dan betulin saluran air atau penghangat kamar. Lihat mukanya yang panik dan capek dan agak dehidrasi saat itu, saya tahu diri sajalah. RAMBATE RATAHAYOO! Jangan ngaso sebelum koper sampai kamar loe! Saya mengumpat panjang pendek, mengutuki kebodohan bawa koper sebesar dan seberat itu. Pengalaman mahal ya, Kak?

Leave a Reply