KORAN GRATIS

Hasil pungutan di tube.

Catatan Lepas 60+30 hari di Inggris

Di Jakarta, sudah lama sekali saya tak beli dan baca koran. Tapi di London ini, tiada hari tanpa koran. Itu karena di Inggris, juga hampir semua negara Eropa, ada banyak sekali koran dibagikan gratis. Termasuk koran edisi hari Minggu.

Minimal ada koran pagi dan sore yang beredar setiap hari, dan bisa kita peroleh dari petugas yang menyorongkan koran kepada siapa pun yang lewat di dekatnya. Korannya setebal 66 halaman. Isi berita: ya sama dengan yang disampaikan di BBC. Dari soal politik sampai reality show. Ditulis dengan sangat baik pula. Saya tahu soal gempa di Sulawesi, kecelakaan Lion Air lewat koran ini. Begitu juga dengan review Bohemian Rhapsody yang dapat kritik pedas dari kritikus film Inggris. Setiap Jumat, selain koran ikut dibagikan majalah yang keren isinya, cakep layoutnya. Ada fashion – beauty – living section. Juga rekomendasi buku dari para editornya. Bahagia!

Kalau sampai nggak ketemu sama petugas pembagi koran gratis, jangan sedih. Kita akan tetap bisa membaca koran edisi terbaru di kereta api. Dibagikan juga? Nggak. Pungut saja koran yang tergeletak di bangku kereta. Ini koran bekas yang habis dibaca orang. Biasanya begitu kelar baca, mereka tinggalkan saja koran di dalam kereta. Yang menemukannya boleh baca dan –kalau mau— membawanya pulang. Saya paling rajin memungut koran ini. Mungkin lebih tepat disebut pemulung, karena selain koran, segala majalah di mana pun –museum, perpustakaan, supermarket, toko buku, saya pungut dan bawa pulang. Buat apa? Yang pasti jadi bahan bacaan di kereta eh, tube. Terus dipandang-pandang, dikagumi, dinikmati setiap halamannya: kok bisa orang bikin koran dan majalah dan brosur dan leaflet keren-keren banget dan gratis pula. Saking cakepnya, habis dibaca, saya simpan. Banyak yang saya “selamatkan” untuk dibawa pulang. Habis bagus banget, sih. Dibuang sayang.

Majalah gratisan dari Waitrose Supermarket.

Tetapi di akhir kunjungan yang dua bulan lebih ini, ternyata pungutan majalah gratis itu bikin koper saya yang minimalis dan super mungil itu jadi mirip bisul mateng: siap pecah! Akhirnya, demi keamanan koper, sebagian besar dari hasil pemulungan itu ditinggal. Sedih.

Tetapi beneran deh, kalau ke sana lagi, yakinlah saya akan jadi pemulung majalah dan koran dan leaflet keren-keren itu, yang semuanya gratis. Tinggal pungut.

Leave a Reply