URUSAN MAKAN

Menu kesukaan: avocado+yogurt+biji-bijian+jeruk (kalau ada)

Catatan Lepas Residensi di London

Selama di London, saya memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar masa residensi di Wisma Siswa Merdeka, di wilayah Willesden Green. Sambil melewatkan beberapa minggu di Birmingham, menginap di rumah Emma Wright, founder The Emma Press, dan di rumahnya Taufiq dan Olla. Tetapi 70% saya menginap di Wisma Merdeka.

Sesungguh-sungguhnya sih, saya pengen tinggal di tempat lain, sendirian. Semacam kost gitu lah. Tetapi waktu 2 bulan terlalu pendek untuk menyewa tempat kost (minimal 3 bulan) dan kenyataan menggigit dkeras: duitnya cekak pol! Kalau dipaksakan tinggal di tempat kost, alamat saya cuma bisa tidur, tetapi nggak makan sam-sek. Ya bahaya dong! Kalau sampai sakit? Aduhai banget. Sementara kalau tinggal di WSM, setiap hari ada sarapan!

Setiap pagi di meja makan Wisma, Mbak Wati menyiapkan menu yang sama: telur rebus, cereal berbagi rasa dan bentuk dalam kotak ukuran maxi, roti putih dengan nutella dan selai kacang. Minumannya ada kopi (nescafe), coklat (tak bermerek), dan the (lipton) –silakan diracik sendiri. Jadwal makan, jam 8 sampai jam 10 pagi. Habis makan, silakan cuci piring sendiri.

Makan siang gimana? Ya itu sih urus sendiri aja. Kadang-kadang saya mengambil 2 telur. Satu buat sarapan, satu lagi buat makan siang. Roti juga gitu. Setangkup buat pagi, setangkup lagi buat makan siang. Lumayan. Kadang-kadang iseng ambil 3 telur buat bekal makan malam. Gimana dengan yang lain? Oh, mereka begitu juga. Trik ini saja saya dapat dari teman-teman yang sudah duluan di sana. Bahkan Mbak Wati pun menganjurkan hal yang sama: bawa telurnya buat bekal! Ya yuk mariiiii! Eh, untung nggak bisulan.

Lalu makan malamnya?
Kalau sudah ada kepastian nggak ada yang ngajak makan malam (demi penghematan), dan acara seharian selesai sebelum pukul 20.00, saya pasti mampir belanja di Salisbury, supermarket depan stasiun. Pilihan saya hampir selalu bahan makanan yang bisa langsung masuk mulut tanpa perlu proses tambahan. Kalau pun ada proses lain yang diperlukan paling cuma masuk microwave 60 detik, sudah bisa masuk mulut. Kenapa nggak masak? Nggak boleh. Kompor hanya bisa digunakan oleh pengelola wisma.

Nah, bahan makanan pilihan saya biasanya buah, yogurt, roti, smoked beef atau bacon, keju (nggak usah beli roti, karena tersedia di Wisma, bukan?).

Buat buah (juga sayur), pilih yang asli Inggris/Eropa aja. Harganya murah banget. Dengan segala hormat, mari lupakan hasrat makan pepaya atau nangka atau pete meski ada yang jual. Harga irisan nangka setebal 3 cm berdiameter 15 cm, bisa mengantar saya ke Bandung naik kereta eksekutif. Pulang pergi! Ya, semahal itu!

Pada suatu siang, di supermarket, di deretan buah potong dalam kemasan, saya menemukan “sesuatu” yang saya kenal betul. Kelapa. Yang sudah sangat tua. Dipotong dadu ukuran 3 x 3 cm, diberi judul tropical healthy snack. Iseng, saya tengok harganya…. Bujubuneng: beli satu kotak kecil kelapa tua itu bisa bikin saya beli 2 sandwich isi telor dan ham! Nggak asik: sudah mahal, kremi-an pulak.

Jadi beli buah apa dong? Kalau mau apel, nggak usah beli. Bisa pungut di halaman belakang Wisma, berjatuhan dari pohon yang berdahan rendah. Kalau beruntung, kebagian pear juga. Buah lainnya? Beli. Dan ada banyak sekali: kiwi, avocado, segala rupa berries, cherry, plum, peach dan semua temannya yang datang dari daerah sekitar, tersedia. Selain murah, rasa dan kesegaran terjamin. Hebatnya nih, buah-buah yang dijual itu dilengkapi data komplit. Ada tanggal kapan betul-betul matang, alamat pos dan akte kelahiran yang jelas –lokasi tumbuh di mana, kapan berbuah, jalan ke Inggris naik apa, plus jaminan sesuai dengan kriteria buah masing-masing.

Jeruk, misalnya, di kemasan ada stiker jaminan buah ini manis dan banyak jus-nya. Ada nomor hotline, seumpama mau complaint jeruknya nggak manis dan airnya dikit.

Satu paket yang berisi dua avocado, punya dua tanggal untuk masing-masing buah. Yang satu bisa dimakan detik ini juga, satunya lagi simpan buat besok. Kebangetan sih lengkapnya. Tinggal nama latin saja yang kayaknya lupa dipasang.

Selain buah-buahan, yogurt dan keju di sini sangat murah dan variasinya banyak banget. Saya jadi hobi mencoba aneka keju, sebelum akhirnya jatuh hati banget pada Brie. Kalau yogurt, saya kesengsem sama coconut yogurt, yang sesuai namanya terbuat dari kelapa. Buset enak banget! Very light, and sooooo delicious –tsaaah! Saya bisa menghabiskan 3 – 4 cup coconut yogurt ini dalam sehari. Dipadu avocado atau apel: dahsyat! Ditambah perasan jeruk, ya ampun bikin hati gembira seharian. Harus pakai yogurt? Ya nggak juga. Dimakan gitu aja juga pun bisa, terutama ketika mulut pengen ngunyah atau makan apaaa gitu. Ya apa? Ada itu deh.

Masa residensi ini memang sesuatu.
Saya yang selama di Jakarta selalu mikirin menu makan siang dan malam hingga super detil (beli di mana, dimasak bagaimana, kadang oleh siapa), bisa makan apa aja yang ada di meja. Yang penting makan. Yang penting kenyang. Yang penting nggak sakit. Rasa yang khas dan penampilan yang cakep nggak masuk hitungan. Makan buat bisa bertenaga, berpikir, bekerja, bergerak. Bukan untuk memuaskan lidah. Tetapi tentu saja ketika dapat kesempatan menikmati sesuatu yang berbeda (dan gratisan), oh setiap suap saya nikmati dengan sungguh. Nggak mau rugi. Kalau perlu piring dijilatin sampai bersih. #hah

Nah, lewat tulisan ini, ijinkan saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Mbak Soe Tjen Marching, Salony Widjaya, Raing McCullogh, Nelly Aldon, Tetty Baxter, dan semuanya yang siapa saja yang mentraktir saya selama masa residensi ini, baik makan siang, makan malam, brunch, ngopi santai, es krim, sushi, …Thank you so much-o! Buat Emma Wright, Taufiq dan Olla yang memberi kesempatan saya nginep di rumah kalian sambil leyeh-leyeh dan makan enak berhari-hari sambil nonton Netflix nggak pakai berhenti: Kamsiah, you don’t know how much it means to me.

Leave a Reply